Nyak Kaoey
07-13-2008, 09:03 PM
PADA masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, daerah Gayo dan Alas secara resmi dimasukkan dalam bagian Kerajaan Aceh. Gayo dan Alas waktu itu dibagi dalam beberapa daerah yang disebut Kejuruan. Kepada masing-masing kejuruan diberikan sebuah bawar, pedang (sejenis tongkat komando) sebagai pengganti surat keputusan.
Daerah Gayo dan Alas dibagi menjadi delapan kejuruan, enam di Gayo, yaitu Kejuruan Bukit, Lingge, Syiah Utama, Patiambang, Bebesan, dan Kejuruan Ambuk. Dua lagi di di Tanah Alas yaitu Kejuruan Batu Mbulan dan Kejuruan Bambel.
Kejuruan Patiambang berkedudukan di Penampahan dengan luas daerah seluruh Gayo Lues yang terdiri dari 55 kampung. Kepala pemerintahan dipegang Kejruen dengan dibantu empat orang Reje, yaitu Reje Gele, Bukit, Rema dan Kemala, dan delapan Reje Cik yaitu: Porang, Kute lintang, Tampeng, Kemala Derna, Peparik, Penosan, Gegarang dan Padang.
Tugas utama Reja dan Reje Cik adalah membangun daerahnya masing-masing dan memungut pajak dari rakyat serta memilih kejuruan. Kejuruan setiap tahun menyetor upeti kepada Sultan Aceh.
Belanda kemudian melakukan ekspansi ke Aceh. Setelah Sultan Muhammad Daudsyah menyerah pada Belanda pada tahun 1903, maka Gubernur Militer Aceh Van Heutsz memutuskan untuk menaklukkan seluruh Aceh. Daerah yang belum takluk adalah Gayo Lues dan Alas.
Van Heutsz memerintahkan Van Daalen untuk menaklukkan kedua daerah tersebut. Setelah segala sesuatunya dianggap rampung maka Van Daalen mulai menyerang daerah Gayo Lues pada tahu 1904.
Setelah mengalahkan Gayo Laut, Gayo Deret, akhirnya Van Daalen memasuki daerah Gayo Lues disebuah kampung terpencil yaitu kampung Kela (9 Maret 1904). Dari sinilah daerah Gayo lues Ditaklukkan Benteng demi Benteng. Dimulai dengan menaklukkan Benteng Pasir (16 Maret 1904), Gemuyung (18,19,20 Maret 1904), Durin (22 Maret 1904), Badak (4 April 1904),Rikit Gaib (21 April 1904), Penosan (11 Mei 1904), Tampeng (18 Mei 1904).
Hampir seluruh isi benteng dimusnahkan dan yang luka-luka tertawan akhirnya dibunuh. Menurut catatan Keempes dan Zentegraaf (pengarang Belanda) hampir 4000 rakyat Gayo dan Alas gugur, termasuk pejuang Gayo seperti Aman Linting, Aman Jata, H Sulaiman, Lebe Jogam, Srikandi Inen Manyak Tri, Dimus dan lain-lain.
Setelah menaklukkan Gayo Lues pasukan Belanda kemudian menuju Tanah Alas. Mereka baru kembali lagi ke Gayo Lues pada tahun 1905 untuk menyusun pemerintahan. Belanda kemudian membentuk Pemerintahan Sipil yang disebut Onder Afdeling (Kabupaten).
Onder Afdeling Gayo lues membawahi tiga daerah yang disebut Landchap (Kecamatan), yaitu: Landchaap Gayo Lues di Blang Kejeren dikepalai oleh Aman Safii. Landchap Batu Mbulan dikepalai oleh Berakan. Landchap Bambel dikepalai oleh Syahidin.
Sejak 1905 – 1942 Tanah Alas tunduk ke Gayo Lues. Tahun 1926 terjadi pemberontakan rakyat terhadap Belanda di Blang Kejeren yang dipimpin oleh Muhammad Din, pemberontakan gagal. Muhammad Din ditangkap dan dibuang ke Boven Digul (Irian Jaya) sedangkan kawan-kawannya dibuang ke Cilacap, Sukamiskin dan Madura.
Setelah Belanda Kalah dalam perang dunia II, Jepang masuk ke Indonesia. Pada tahun 1942 – 1945 Gayo Lues dijadikan Jepang sebagai salah satu daerah pertahanan dan pemusatan militer di Aceh. Pemuda-pemuda Gayo Lues dilatih kemiliteran dalam jumlah yang banyak diharapkan pemuda-pemuda ini kelak sebagai pendukung militer Jepang.
Pemuda-pemuda hasil didikan Jepang antara lain adalah Muhammad Din, Bahrin, Zakaria, Maaris, Maat, Jalim Umar, Abdurrahim, Asa, Dersat, Hasan Sulaiman, Ahmad Aman Bedus, Hasan Tejem dan lain-lain.
Kisah penaklukkan Van Daalen itu menjadi sebuah catatan tersendiri bagi masyarakat Gayo Lues. Malah penulis Belanda, H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh†menggambarkan penaklukan tersebut sebagai sebuah ekspansi yang mengerikan. Ia menyebutnya hantu-hantu di blang untuk ketangkasan pejuang Gayo Lues menyerang Belanda secara frontal dan tiba-tiba.
Pada tahun 1946 pemerintah Aceh menetapkan daerah pedalaman menjadi satu kabupaten (keluhakan) yang bernama Keluhakan Aceh Tengah. Luhak (Bupati) dan ibukota kabupaten dimusyawarahkan antara pemimpin dari Takengon, Blang Kejeren dan Kutacane.
Setelah diadakan musyawarah terpilihlah Raja Abdul Wahab sebagai Luhak Aceh Tengah sedangkan Takengon dipilih sebagai Ibukota, A R Hajat sebagai Patih, Mude Sedang menjadi Wedena Takengon, M. Saleh Aman Sari menjadi Wedena Gayo Lues dan Khabar ginting menjadi Wedena Tanah Alas.
Setelah susunan pemerintahan terbentuk dan berjalan beberapa bulan mulailah terasa kesulitan menjalankan roda pemerintahan mengingat hubungan Takengon-Blangkejeren-Kutacane sangat jauh. Atas dasar kesulitan diatas maka sejak tahun 1957 mulailah Gayo dan Alas berjuang membentuk kabupaten sendiri setelah melalui perjuangan penuh liku-liku akhirnya pada tahun 1974 Gayo dan Alas terbentuk menjadi kabupaten yang dinamakan kabupaten Aceh Tenggara dengan undang-undang No. 4 Tahun 1974 tertanggal 26 Juni 1974.
Dengan berlakunya UU no 5 tahun 1974, maka status kewedanan diganti dengan sebutan Pembantu Bupati. Namun sejak tahun 1975 sampai 1981 status Gayo Lues masih dalam status transisi karena Gayo Lues dijadikan daerah koordinator Pemerintahan untuk empat kecamatan. Baru pada tahun 1982 kewedanaan Gayo Lues dijadikan wilayah Pembantu Bupati Gayo lues dipimpin oleh pembatu Bupati.
Pada akhir tahun 1997 tokoh Gayo Lues bermusyawarah di Blangkejeran memperjuangkan daerah tersebut menjadi kabupaten. Dibentuklah panitia persiapan peningkatan status wilayah yang diketuai oleh Drs H Maat Husin. Baru pada 2 Juli 2002 Gayo Lues diresmikan menjadi kabupaten oleh Menteri Dalam Negeri, Hari Subarno.
Tanggal 6 Agustus 2002 Gubernur NAD, Ir. Abdullah Puteh melantik Ir. Muhammad Ali Kasim, MM menjadi Penjabat Bupati Gayo Lues di Kutacane. Sebagai kepala pemerintahan pertama di daerah seribu bukit tersebut. [iskandar norman]
Daerah Gayo dan Alas dibagi menjadi delapan kejuruan, enam di Gayo, yaitu Kejuruan Bukit, Lingge, Syiah Utama, Patiambang, Bebesan, dan Kejuruan Ambuk. Dua lagi di di Tanah Alas yaitu Kejuruan Batu Mbulan dan Kejuruan Bambel.
Kejuruan Patiambang berkedudukan di Penampahan dengan luas daerah seluruh Gayo Lues yang terdiri dari 55 kampung. Kepala pemerintahan dipegang Kejruen dengan dibantu empat orang Reje, yaitu Reje Gele, Bukit, Rema dan Kemala, dan delapan Reje Cik yaitu: Porang, Kute lintang, Tampeng, Kemala Derna, Peparik, Penosan, Gegarang dan Padang.
Tugas utama Reja dan Reje Cik adalah membangun daerahnya masing-masing dan memungut pajak dari rakyat serta memilih kejuruan. Kejuruan setiap tahun menyetor upeti kepada Sultan Aceh.
Belanda kemudian melakukan ekspansi ke Aceh. Setelah Sultan Muhammad Daudsyah menyerah pada Belanda pada tahun 1903, maka Gubernur Militer Aceh Van Heutsz memutuskan untuk menaklukkan seluruh Aceh. Daerah yang belum takluk adalah Gayo Lues dan Alas.
Van Heutsz memerintahkan Van Daalen untuk menaklukkan kedua daerah tersebut. Setelah segala sesuatunya dianggap rampung maka Van Daalen mulai menyerang daerah Gayo Lues pada tahu 1904.
Setelah mengalahkan Gayo Laut, Gayo Deret, akhirnya Van Daalen memasuki daerah Gayo Lues disebuah kampung terpencil yaitu kampung Kela (9 Maret 1904). Dari sinilah daerah Gayo lues Ditaklukkan Benteng demi Benteng. Dimulai dengan menaklukkan Benteng Pasir (16 Maret 1904), Gemuyung (18,19,20 Maret 1904), Durin (22 Maret 1904), Badak (4 April 1904),Rikit Gaib (21 April 1904), Penosan (11 Mei 1904), Tampeng (18 Mei 1904).
Hampir seluruh isi benteng dimusnahkan dan yang luka-luka tertawan akhirnya dibunuh. Menurut catatan Keempes dan Zentegraaf (pengarang Belanda) hampir 4000 rakyat Gayo dan Alas gugur, termasuk pejuang Gayo seperti Aman Linting, Aman Jata, H Sulaiman, Lebe Jogam, Srikandi Inen Manyak Tri, Dimus dan lain-lain.
Setelah menaklukkan Gayo Lues pasukan Belanda kemudian menuju Tanah Alas. Mereka baru kembali lagi ke Gayo Lues pada tahun 1905 untuk menyusun pemerintahan. Belanda kemudian membentuk Pemerintahan Sipil yang disebut Onder Afdeling (Kabupaten).
Onder Afdeling Gayo lues membawahi tiga daerah yang disebut Landchap (Kecamatan), yaitu: Landchaap Gayo Lues di Blang Kejeren dikepalai oleh Aman Safii. Landchap Batu Mbulan dikepalai oleh Berakan. Landchap Bambel dikepalai oleh Syahidin.
Sejak 1905 – 1942 Tanah Alas tunduk ke Gayo Lues. Tahun 1926 terjadi pemberontakan rakyat terhadap Belanda di Blang Kejeren yang dipimpin oleh Muhammad Din, pemberontakan gagal. Muhammad Din ditangkap dan dibuang ke Boven Digul (Irian Jaya) sedangkan kawan-kawannya dibuang ke Cilacap, Sukamiskin dan Madura.
Setelah Belanda Kalah dalam perang dunia II, Jepang masuk ke Indonesia. Pada tahun 1942 – 1945 Gayo Lues dijadikan Jepang sebagai salah satu daerah pertahanan dan pemusatan militer di Aceh. Pemuda-pemuda Gayo Lues dilatih kemiliteran dalam jumlah yang banyak diharapkan pemuda-pemuda ini kelak sebagai pendukung militer Jepang.
Pemuda-pemuda hasil didikan Jepang antara lain adalah Muhammad Din, Bahrin, Zakaria, Maaris, Maat, Jalim Umar, Abdurrahim, Asa, Dersat, Hasan Sulaiman, Ahmad Aman Bedus, Hasan Tejem dan lain-lain.
Kisah penaklukkan Van Daalen itu menjadi sebuah catatan tersendiri bagi masyarakat Gayo Lues. Malah penulis Belanda, H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh†menggambarkan penaklukan tersebut sebagai sebuah ekspansi yang mengerikan. Ia menyebutnya hantu-hantu di blang untuk ketangkasan pejuang Gayo Lues menyerang Belanda secara frontal dan tiba-tiba.
Pada tahun 1946 pemerintah Aceh menetapkan daerah pedalaman menjadi satu kabupaten (keluhakan) yang bernama Keluhakan Aceh Tengah. Luhak (Bupati) dan ibukota kabupaten dimusyawarahkan antara pemimpin dari Takengon, Blang Kejeren dan Kutacane.
Setelah diadakan musyawarah terpilihlah Raja Abdul Wahab sebagai Luhak Aceh Tengah sedangkan Takengon dipilih sebagai Ibukota, A R Hajat sebagai Patih, Mude Sedang menjadi Wedena Takengon, M. Saleh Aman Sari menjadi Wedena Gayo Lues dan Khabar ginting menjadi Wedena Tanah Alas.
Setelah susunan pemerintahan terbentuk dan berjalan beberapa bulan mulailah terasa kesulitan menjalankan roda pemerintahan mengingat hubungan Takengon-Blangkejeren-Kutacane sangat jauh. Atas dasar kesulitan diatas maka sejak tahun 1957 mulailah Gayo dan Alas berjuang membentuk kabupaten sendiri setelah melalui perjuangan penuh liku-liku akhirnya pada tahun 1974 Gayo dan Alas terbentuk menjadi kabupaten yang dinamakan kabupaten Aceh Tenggara dengan undang-undang No. 4 Tahun 1974 tertanggal 26 Juni 1974.
Dengan berlakunya UU no 5 tahun 1974, maka status kewedanan diganti dengan sebutan Pembantu Bupati. Namun sejak tahun 1975 sampai 1981 status Gayo Lues masih dalam status transisi karena Gayo Lues dijadikan daerah koordinator Pemerintahan untuk empat kecamatan. Baru pada tahun 1982 kewedanaan Gayo Lues dijadikan wilayah Pembantu Bupati Gayo lues dipimpin oleh pembatu Bupati.
Pada akhir tahun 1997 tokoh Gayo Lues bermusyawarah di Blangkejeran memperjuangkan daerah tersebut menjadi kabupaten. Dibentuklah panitia persiapan peningkatan status wilayah yang diketuai oleh Drs H Maat Husin. Baru pada 2 Juli 2002 Gayo Lues diresmikan menjadi kabupaten oleh Menteri Dalam Negeri, Hari Subarno.
Tanggal 6 Agustus 2002 Gubernur NAD, Ir. Abdullah Puteh melantik Ir. Muhammad Ali Kasim, MM menjadi Penjabat Bupati Gayo Lues di Kutacane. Sebagai kepala pemerintahan pertama di daerah seribu bukit tersebut. [iskandar norman]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar