Minggu, 03 Oktober 2010

Tradisi Lepat Gayo

You are currently browsing the category archive for the ‘Uncategorized’ category.
Oleh Mahyadi
Dingin merangsek masuk dari celah-celah papan yang mulai jarang. Asap mengepul dari bara api yang terbakar diatas dapur kayu. Aroma daun pisang yang terbakar sedikit menyengat mata. Perlahan rasa dingin yang menusuk tulang mulai sirna karena secangkir kopi dan beberapa potong kue lepat bakar menemani.
Sebaris cerita melirik “sekelumit” kebiasaan masyarakat dataran tinggi Gayo, dengan berbagai tradisi yang mereka miliki. Dataran tinggi Gayo, memiliki iklim yang cukup dingin, terletak di ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut. Pegunungan melingkari daerah berhawa sejuk itu. Namun dibalik sejuknya tanah Gayo, ada terselip tradisi yang mulai terkikis dan dilupakan oleh masyarakatnya.
Sederatan tradisi masyarakat di dataran tinggi Gayo, ketika menjelang bulan suci Ramadhan, maupun pada saat menyambut hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha ada ciri khas tersendiri, dalam menyambut datangnya hari-hari besar itu. Salah satu ciri khasnya adalah dari segi panganan yaitu lepat gayo.
Lepat Gayo, adalah salah satu panganan dari sederetan tradisi masyarakat di dataran tinggi Gayo dalam menyambut hari besar keagamaan ataupun hari besar lainya. Mungkin panganan lepat gayo ini, tidak jauh berbeda dengan “kue timpan” panganan tradisi masyarakat Aceh bagian pesisir. “Serupa tapi tak sama” pantas disebutkan bagi kedua jenis panganan di Serambi Mekkah ini.
Perbedaan antara kue timpan dengan lepat gayo, panganan dari dataran tinggi gayo itu, bisa bertahan lebih lama, sedangkan kue timpan yang biasanya Aceh bagian pesisir bisa dijumpai di warung-warung kopi. Sedangkan kue lepat ini, bisa dinikmati nyaris hanya setahun sekali.
Dataran tingi Gayo yang kita kenal memiliki beragam etnis, yang mendiami daerah daerah itu, selain Masyarakat dataran tinggi Gayo, dan Aceh pesisir sendiri ada juga etnis Jawa, Padang, Batak dan banyak lagi yang lainya. Sebagian besar dari mereka yang tinggal dan menetap di Takengon, atau Bener Meriah, telah mengenal panganan kue lepat Gayo, bahkan ada juga dari mereka yang mengikuti tradisi pembuatan lepat gayo menjelang hari besar seperti menyambut bulan Ramadhan dan hari besar lainya.
“Saya menetap di Takengon ini, sudah sejak kecil, dulu orang tua saya tinggal di Kampung Isak, sebagai buruh perkebunan. Jadi tradisi ini, sudah saya kenal sejak 45 tahun silam, sampai dengan sekarang setiap bulan ramadhan atau lebaran kami tidak lupa menyiapkan panganan lepat Gayo.” Cerita Inen Su, seorang ibu yang asli berdarah jawa.
Terbukti, panganan lepat Gayo bukan saja dikenal ataupun dikonsumsi oleh orang Gayo sendiri, tetapi kue berbalut daun pisang itu, telah “menjalar” ke rumah-rumah masyarakat yang bukan etnis Gayo.
Panganan lepat gayo hanya didapat pada saat menjelang bulan puasa maupun dalam menyambut hari raya lainnya. Panganan yang terbuat dari tepung beras yang diberi isi kelapa yang telah diparut dan dibungkus lembaran daun pisang ini, “nyaris” di setiap rumah dapat dijumpai menjelang bulan suci Ramadhan.
Salah satu keunikan dari kue lepat gayo, yang dalam bahasa daerahnya, “penan lepat gayo” ini, bisa bertahan hingga satu bulan diawetkan dengan menggunakan asap dari tungku kayu bakar. Umumnya masyarakat dataran tinggi Gayo masih banyak yang menggunakan kayu bakar untuk memasak didapur, Nah untuk mengawetkan lepat gayo ini, kebiasaan masyarakat gayo hanya dengan mengantung kue lepat diatas para-para dapur kayu hingga mengering.
Lepat yang telah mengering diawetkan diatas para-para dapur kayu itu, sewaktu-waktu dapat dikonsumsi sebagai panganan untuk berbuka puasa dengan cara memangang diatas bara api atau di wadah yang telah dibubuhi minyak makan.
Sayangnya kini, kue lepat gayo yang sudah menjadi tradisi masyarakat daerah penghasil kopi ini, mulai memudar seiring dengan berjalananya waktu. Pembuatan kue tersebut, terbilang sederhana, namun “tergilas” dengan kemajuan zaman dan moderenisasi, sehingga sebagian besar masyarakat lebih memilih makanan yang berbau mentega dan keju.
“Jujur saja, saya selaku putra daerah yang berdarah asli Gayo, pada saat menjelang bulan suci Ramadhan, hampir tidak pernah lagi membuat lepat Gayo. Padahal itu kan makanan ciri khas kita.” Ungkap Aman Win
Tidak bisa dipungkiri, makanan kegemaran dan ciri khas orang Gayo itu, lama-kelamaan tenggelam ditelan zaman. Namun sebagian besar masyarakat yang masih tinggal di daerah pinggiran masih menggemari makanan itu, sebagai salah satu khas yang tidak boleh dilupakan.
Lepat gayo, hanyalah salah satu dari sekian banyak ciri khas panganan dari daerah dataran tinggi gayo. Tapi lepat Gayo, mempunyai “musim” tersendiri. Umumnya pembuatan panganan itu, dibuat menjelang bulan suci Ramadhan.
Panganan musiman itu, jika dikonsumsi kurang lengkap rasanya jika tidak ditemani dengan secangkir kopi panas. Apalagi seperti yang kita tau, Dataran tinggi gayo merupakan penghasil kopi terbesar di Aceh. Rasa-rasanya kopi dan kue lepat hampir tidak bisa dipisahkan karena ada kenikmatan tersendiri dalam mengkonsumsinya keduanya.

Datu Beru, Datu Siapa?

Oleh Yusra Habib Abdul Gani *)
QURRATA‘AINI, asal dataran tinggi Gayo, adalah seorang tokoh wanita Aceh yang sejak kecil sudah melekat ciri-ciri kepemimpinan dan membela kebenaran. Beliau cerdas, menguasai ilmu agama, politik, falsafah dan hukum. Oleh sebab itu, Raja Linge mengutus Qurrata‘aini sebagai wakil resmi dari Kerajaan Linge dalam Parlemen Aceh di Kutaraja. Prestasi gemilangnya, sempat menggemparkan dunia pradilan Aceh pada ketika itu, hanya saja tidak diketahui secara meluas, karena kurangnya minat para pakar sejarah (khususnya dari Gayo) untuk meneliti dan menulis demi memperkaya khazanah sejarah Aceh.
Jadi, wajar, jika hanya ketokohan Tjut Malayati, Tjut Muthia, Tjut Njak Dien, Tjut Meuligoë, Tjut Meurah Gambang dan Tjut Meurah Intan, yang mencuat dan mendominasi referensi sejarah wanita Aceh. Terlebih dari itu, ketokohan wanita Aceh dalam perang melawan penjajah -keperkasaannya- diidentikkan dengan kaum lelaki, tidak dalam arti lain. Padahal, Tajul Alam Syaifiatuddin, Nurul Alam Nakiyatuddin dan Inayatsyah Zakiyatuddin adalah diantara wanita yang tidak kurang harumnya dalam lembaran sejarah Aceh, tetapi deretan nama wanita yang disebut terakhir ini kurang populer berbanding ketokohan militer wanita Aceh. Apakah ini suatu indikasi bahwa wanita Aceh hanya suka dengan perang?
Qurrata‘aini punya warna lain, berkiprah dalam dunia politik, hukum dan telah menempatkan dirinya sebagai satu-satunya wanita Aceh yang disegani dan layak menduduki kursi Parlemen pusat pada masa pemerintahan Sultan Ali Mughayatsyah. Bertandang, meski seorang! Pandangan beliau tentang aplikasi hukum yang mengetengahkan ijtihad -penafsiran intensive- telah menjadi yurisprudensi menarik dalam dunia Pradilan Aceh, karena memadukan atau memasukkan unsur hukum Adat Gayo ke dalam hukum Islam yang diterima oleh Mahkamah Qadhi Maliku ’Adil, tanpa mengenyampingkan makna hukum Islam.
Ceritanya begini: ’Sebelum Johansyah (Raja Linge ke-12) dilantik oleh Sultan Aceh menjadi Panglima perang melawan Portugis di Selat Melaka dan Tanah Semenanjung Malaysia, sudah mempunyai seorang anak lelaki [yang kemudian memangku [Raja Linge ke-13] Dalam missi tersebut; selain berhasil meredam kekuatan Portugis, Johansyah mempersunting putri Sultan Johor dan dikaruniai dua anak lelaki bernama: Bener Merie dan Sengeda. [Johansyah mempunyai tiga isteri, yaitu: Ibu Raja Linge ke-13 (isteri pertama); Nio Niang Lingké -Putroê Nèng- (isteri kedua), tidak ada zuriat; Putri Sultan Johor, (isteri ketiga) Ketika bertugas di kepulauan Riau, tiba-tiba Johansyah jatuh sakit dan meninggal dunia. Makam Johansyah, hingga sekarang masih tegak dan dipelihara dengan baik di Pulau Lingga, Riau.
Suatu ketika, ketika Bener Merie dan Sengeda sudah dewasa, mereka meminta restu Ibunya, supaya dibolehkan ikut rombongan Raja Linge, seusai menghadiri Sidang tahunan Raja-raja seluruh Aceh di Kutaraja. Untuk melicinkan jalan, mereka bisikan kepada Syirajuddin (Perdana Menteri Linge, berkedudukan di Serule). Pendek cerita, sampai di Istana Kerajaan Linge, suasana mulai heboh dan bisik-bisik; siapa gerangan dua remaja yang ikut dalam rombongan? Tanpa disiasat lebih dahulu, Raja Linge ke-13 terus menyiapkan algojo untuk ’menghabisi‘ Bener Merie dan Sengeda dengan tuduhan sebagai mata-mata, padahal keduanya ialah saudara satu Ayah, lain Ibu dengan Raja Linge ke-13.
Untuk itu, Raja Linge ke-13, menyusun dua regu. Regu pertama, bertugas untuk membunuh Bener Merie, yang komandannya ialah Raja Linge ke-13 sendiri. Regu kedua, bertugas untuk membunuh Sengeda, yang komandannya ialah Syirajuddin. Setelah dua hari dalam perjalanan, regu pertama tiba di Samar Kilang. Di sinilah Bener Merie baru sadar dan tahu bahwa dirinya akan dibunuh. Sebelum jiwanya melayang, dia menangis tersedu-sedu, menderu dan meratap hingga mengoyak angkasa biru dan keheningan alam semesta agar Allah Maha kuasa tahu, bahwa nyawanya tinggal menghitung detik waktu, karena tidak menyangka peristiwa ini akan berlaku. Tempat Bener Merie menangis dan menderu ini dinamai: “Wihni Bernguk” (“Sungai isak-tangis”). Bener Merie dibunuh di hulu “Uning”, suatu kawasan terpencil di Samarkilang.
Akan halnya dengan Sengeda, berhasil diselamatkan oleh Syirajuddin, yang dikenal ’alim dan berbudi baik. Untuk mengelabui Raja Linge ke-13, Syirajuddin terpaksa mengeksekusi seekor kucing, diletakkan dalam Kerenda dan dimakaman. Kuburan Kucing yang tak bersalah (innosence) ini dinamai: “Tanom Kucing” (“Tanam Kucing”) terletak di daerah Serule.
Pada persidangan tahunan Raja-raja seluruh Aceh berikutnya, terungkap sepak terjang Raja Linge ke-13, atas laporan Sengeda dan Syirajuddin (Perdana Menteri Linge). Kasus ini menjadi salah satu agenda pokok dalam persidangan Raja-raja seluruh Aceh waktu itu. Sultan Aceh kemudian menyerahkan perkara tersebut kepada Qadhi Malikul ’adil untuk mengadili.
Setelah mendengar keterangan saki-saksi dan bukti-bukti yang ada, maka Qadhi Maliku ’adil menjatuhkan hukuman mati (qishash) kepada Raja Linge ke-13, karena telah terbukti dengan sah melakukan delik pembunuhan berencana. Hal ini termaktub dalam Al-Qur‘an, surat Al-Baqarah, ayat 178: “... Diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema‘afan dari saudaranya [Ahli waris], hendaklah yang mema‘afkan mengikuti dengan cara yang baik dan yang diberi ma‘af membayar diyat kepada yang memberi ma‘af dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat…”
Sebagai pakar hukum Islam dan anggota Parlemen wakil dari Kerajaan Linge, Qurrata‘aini merasa keberatan dengan hukuman qishash yang dijatuhkan kepada Raja Linge ke-13, walaupun sudah terbukti melakukan pembunuhan. Kebenaran mesti ditegakkan, walaupun langit akan runtuh! Dalam persidangan, Qurrata‘aini menyampaikan pledoi menarik dan ilmiah, yang mempersoalkan tentang kepastian hukuman qishash yang dijatuhkan kepada Raja Linge ke-13. Pledoi Qurrata‘aini bukan saja membentangkan dalil-dalil Qur‘ani, tetapi juga legalitas hukum Adat Gayo, demi melengkapi referensi Qadhi Malikul ’adil. “Ya benar, Al-Qur‘an telah menentukan hukuman qishash kepada sipembunuh. Ini wajib ditegakkan! Tetapi jangan lupa bahwa, masih dalam ayat yang sama, tertera: “… Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema‘afan dari saudaranya [Ahli waris], hendaklah yang mema‘afkan mengikuti dengan cara yang baik dan yang diberi ma‘af membayar diyat kepada yang memberi ma‘af dengan cara yang baik pula…” Sehubungan dengan itu, putusan Majlis hakim tidak boleh dilaksanakan, sebelum terlebih dahulu memanggil dan mendengar keterangan Ahli waris, yaitu: Sengeda dan Ibunya. Untuk itu, saya siap menghadirkan mereka di depan Mahkamah yang terhormat ini.” Demikian antara lain bunyi pledoi Qurrata‘aini.
Sementara itu, di celah-celah proses persidangan yang berlangsung alot, Qurrata‘aini melobby Sengeda dan Ibunya yang dirundung malang. Kepada Sengeda, Qurrata‘aini berkata: “Abangmu (Bener Merie) sudah tiada dan tidak mungkin kembali lagi. Jika Raja Linge ke-13 dieksekusi, berarti Anda kehilangan dua saudara. Relakah Anda mema‘afkan? Inilah satu-satu jalan menyelamatkan nyawa Raja Linge ke-13.
Dalam Islam, perintah qishash adalah hak Allah yang wajib didahulukan, bukan sebaliknya. Artinya, hukuman mati (qishash) tidak dilaksanakan, jika ahli waris mema‘afkan. Segeda dengan ikhlas memberi ma‘af.
Setelah mendengar pledoi dan kesaksian Sengeda dan Ibunya, maka Majlis Hakim menukar hukuman mati (qishash) ke atas Raja Linge ke-13 dengan memerintahkan membayar diyat kepada Ahli waris. Qurrata‘aini mengusulkan: “selain membayar diyat, Raja Linge ke-13 juga dikenakan sanksi adat, yakni: wilayah kuasa hukumnya dipersempit, baju kebesaran dan Bawar (Pedang) Kerajaan Linge ditanggalkan.” Usul tersebut dikabulkan oleh Majlis Hakim. Akhirnya, Raja Linge ke-13 yang dengki, irihati dan buruk sangka (prejudice), pulang kampung dengan hina dan tercela.
Qurrata‘aini yang diceritakan panjang-lebar tadi ialah: nama Datu Beru sewaktu kecil. Dalam bahasa Gayo: “Geral turun mani.” Diriwayatkan, dalam perjalanan dari Kuta Raja menuju Takengon, setibanya di Ulung Gajah, tiba-tiba Datu Beru jatuh sakit. Para staffnya mengusung dengan tandu. Akhirnya, beliau meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di Kampung Tunyang, Acheh Tengah. Datu Beru adalah benih unggul (“énéh bereden”) yang sulit dicari penggantinya, walau pun riwayatnya sudah lebih dari lima abad yang silam. Datu Beru; … Datu kita!
*) Penulis adalah Director Institute for Ethnics Civilization Research Denmark
Source: www.yusrahabib.blogspot.com

Sejarah Linge dalam Tulisan Tangan Hamzah

Oleh Win Ruhdi Bathin
Kerajaan Linge atau Kerajaan Islam Linge memang masih diliput misteri. Dikemas dalam bahasa adat gayo, seperti melengkan, saer, didong serta dongeng. Secara ilmiah, masih sangat minim meski penulis sekaliber antropolog Amerika, John R Bowen, pernah menulis sekelumit tentang gayo, dalam bukunya, Sumatran Politics and Poetics, Gayo History, 1900-1989.
Sebagai Antropolog, John R Bowen yang kemudian mengganti namanya menjadi “Aman Genali”, menulis sejarah gayo dalam bukunya setebal 298 dengan hard cover dan kertas yang bagus, secara antropolog.
Dalam pengantar buku Bowen di halaman belakang cover, dituliskannya, “When small-scale societes are intregrated into larger spheres of authority, their key cultural form are often reshaped.
In this book, an anthropologis analyzes political and cultural change among the Gayo, a Muslim people numbering about 200.000,- who live in the highland of northern Sumatera. John R. Bowen , who lived among the Gayo and is fluent in their language, shows how their successive absorption into both colonial and postcolonial states has led them to revise their ritual speaking, sung poetry, and historical narrative.
Berbeda dengan Bowen, di tahun 1984, tepatnya 1 Januari, Hamzah , menuturkan silsilah Keturunan Syeh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala) entah atau Muyang Kute dari Delung Sekinel Kutereje Ling ke Delung Tue Reje Guru Kecamatan Bukit Simpang Tige.
Catatan sejarah Linge ini saya dapat dari Ketua MANGO (Majlis Adat dan Kebudayaan Gayo), Mustafa AK, Selasa (18 Agustus 2009), dirumahnya di Kala Kebayakan. Menurut Mustafa AK, dia mendapatkan catatan sejarah Linge ini dari keluarga Hamzah.
Karena Hamzah sebagai keturunan Reje Linge sudah wafat. Hamzah menulis Sejarah dan silsislah Kerajaan Linge ini Tanggal 1 Januari 2009. Hamzah menyebut dirinya selaku Kwali (Wali) dan penitir (penulis).
Jika melihat kopian Sejarah Linge yang ditulis Hamzah, paling tidak ada delapan halaman. Namun tidak diberi tanda mana halaman satu hingga delapan. Masing-masing halaman sepertinya berdiri sendiri, tidak nyambung ke halaman lain.
Melihat apa yang ditulis almarhum Hamzah, tampak jelas Hamzah sangat pinter karena menitirkan sejarah kerajaan Linge – Negeri Antara disertai dengan Kompas, gambar kerajaan Linge dengan rincian, peta buta, denah dan struktur silsilah.
Saya coba menggambarkan masing-masing halaman meski tulisannya dalam kopian yang say abaca sudah banyak yang kabur. Simak di salah satu halaman ini, dituliskan judulnya Batas Kerajaan Linge Negeri Antara. Hamzah membuat gambar Bintang bersudut delapan.
Bagian atas Bintang (penunjuk arah) yang digambar Hamzah ditulis (Utara) Karakurum (Mongolia) Sebelah Selatan berbatasan dengan Antara Sara Ketike (Antartika), bagian Timur berbatasan Pas epek (Pasific) dan bagian Barat Kerajaan Linge Negeri Antara berbatasan dengan Latamadagaskar.
Diluar tulisan bintang yang menunjukkan arah bersudut delapan ini ditulis melingkar Pulo Perca. Dibawah peta ini ditulis “Pulau Perca (Asia)”.
Dalam keterangan ditulis Hamzah , Sebelah Utara berbatasan dengan Karakurum (Mongolia), Sebelah Selatan berbatasan dengan Antara Sara Ketike (Antartika), Sebelah Barat berbatasan dengan Latamadagaskar (Afrika) dan Sebelah Timur Berbatasan dengan Pas-epek (Pasific). Tulisan vocal e pada pasepek, diberi tanda garis diatasnya.
Dalam lembar yang sama (satu halaman) Hamzah juga menggambar Umah Pitu ruang yang merupakan rumah panggung. Di gambar ini, Hamzah juga membuat Bintang Tujuh di bagian atas rumah sebelah kiri. Laut dengan perahu bertuliskan Perau (perahu) Bujang Genali. Hamzah juga menulis gambar segitiga kerucut yang berjumlah tujuh dengan tulisan Pemulang Pitu Perkara. Kemudian gambar berbentuk setengah lingkaran yang bertuliskan Kal Pitu Mata.
Juga ditulis Lapan Johor Pitu Aceh
Reje di Kedah , Pahang
Kedah Ling, Kedah Malaka.
——-
Di halaman lainnya, Hamzah menulis tikamnya) Moyang Karang Putih Kunyur (penikam Gajah) ari Buntul Kung.
Ter (berputar-putar) bergelung Ke-Asampe terus ke Umang (Utara) terus berpusing I (Timur) Jatur Kunyur ini di Hutan Rimba Bukit kunyur (Lembing) menanda di buka (Negeri) yang dipugar.
Masih di halaman yang sama, Hamzah menggambar rumah. Sepertinya juga Umah Pitu Ruang. Dilingkari tulisan Gelung Perajah. I bagian atas rumah ditulis Asam Perege (Barat). Tiur Kala Ili. Umang (Utara). S
Bagian Selatan tidak terbaca.
Mla Hoya Hoya
Belalang kupu-kupu
Tepae gelang puntu
Anak mane rebutne ari pumungku
Aku gere pane bersebuku
Wassalu wale hak-hak (Selawat nabi)
Sakku rio – rio hak-hak (enti sok ko enti rie)
Uru-urum dewe uton
Pancang Uten tertene
Nama terku
Padehne
Tom imo muk-muken wan uten so 3 X
Ane guel repa’i
Tari sakit awak
One kin ulu kudi
Ungi tareng ungak
Sing-sing ngak kesing ungi taring ungak.
Selanjutnya di halaman lain catatan Hamzah yang ditulis tangan ditulis ;
Pendari Siopat Reje Linge :
Cik Serule (Surul) Seru Lo (Lao)
Cik Beno I Penarun (Penosen) Kayu Pena
Cik Gelung Perajah I Gewat (Kunyur Pegajon
Cik Dah (Kedah) Ishak (Abd.Malik Ibrahm Ishak)
Opat Mudunie Pertama (Mulo Ara Denie)
..Ama Linge (sebelum tulisen ama linge, tidak terbaca. Saya buat titik-titik)
..Serule (Surul) Seru lao (Hari gembira)
..Pena (Kayu I penurunen kin umah Pitu Ruang)
Takengon Lut (Takengon Lut)
Opat Mudenie Kedue
..ma Serule Mulo Demu ( awal-awal warna ni bene-bene)
.. e Linge Mulo Ara (Asal Kerpe Jemarum murip)
..ak Kapal Iturki (Kapal Nabi Olah Nus AS)
..ri Rum Teridah (Baru kering Lut Lilin)
Opat Mudenie Ketige (Ketige Dunia Nampak)
..ma Reje Linge (Mulai ada raja)
..e Reje Bukit (Kebayakan)
..e Reje Patiamang (Blang Kejurun) Blang Kejeren
Opat Reje Nabuk (Merah Abuk) Lukup
Opat Mudenie Keempat (Reje-Raja)
…ma Reje Linge (Ishak)
..e Reje Bukit (Kebayakan)
Kejurun Nosar (Samar Kilang)
..Cik Bebebsen (Ayu/baru dilantik ari (dari)/Lumut (Sibolga) sisa yang tinggal kejadian..g kur Ujung Pejudin (Kute Bedarah) sisa 27 orang
Mukekawalan : 7 Linge Jadi Pengawal
(+ Selingen) di Loyang Daratan Cina
(Kalingga) di India
(Lingayen) di Filipina
(Tambra Lingga) di Malaka
(Lobok Lingga) Lubuk Linggau Sumatera Selatan
(Kota Lingga) di Kalimantan
(Purbalingga) Probolinggo di Jawa Tengah
Mukekewalan Diluar Bathin
Mata kanan (1)
Mata kiri (1)
Telinga Kanan (1)
Telinga kiri (1)
Hidung Kanan (1)
Hidung kiri (1)
Mulut (1)
Mukekawalan Lahir : Pada Diri
Sujud pada Khaliq (semah)
Tangan kanan sujud (semah)
Tangan Kiri sujud (semah)
Siopat Mudunie Batin (Dalam Diri)
1. Ate (hati) Tanoh-Mulut
2. Lempedu (empedu) Wih (air)- mata
3. Jantung (Rara) api-Telinga (kuping)
4. Sosop (Kuyu) angina – Hidung (Yung)
Terjadi Ari Siopat
1. Tanoh Pintu Gerbang awah (mulut) tanah
2. Wij (Air) Pintu Gerbang Mata
3. Rara (api) Pintu Gerbang Telinga
4. Angin (Kuyu) Pintu Gerbang Yung (Hidung)
Pemindahan Melayu Tue Linge
1. Pulau Lingga di Riau (Panglima Lingga) berkubur disana. Bapaknya Moyang Meriah dan Sengeda (Menjadi Gajah Putih)
2. Probolinggo (Jawa Timur) dibuka Wali Sembilan (Songo) dari Linge Isaq
3. Linge Garut Jawa Barat
4. Lingga Raja di Karo (Gunung Sibayakku lagu si lungun (Simalungun) Kabupaten Karo (Karo-dikejar)
Kute (Kota)
Kute Reje Linge (Delung Sekinel)
Kute Reje (Banda) Aceh) dibawa oleh Merah Johan Sultan Pertama di Aceh
Anak Reje Linge Istri Putri Ning Lian …
Masih satu halaman dengan keterangan diatas, Hamzah kembali membuat gambar penunjuk arah (Kompas) tentang Batas Reje Cik Gelung Perajah
Uken (Asam Perege) (Barat-Red)
Kutoa (Kala Ili)(Waq) Linge(Timur- Red)
Kupaloh (Burni Unyur2) (Selatan)
Ku-Bur (Umang) (Utara)
Catatan, di bagian (Kutoa) (Kala Ili) (Timur) ditulis penyelusuran dari Kuala Beukah Aceh Timur.
Masih di halaman ini, Hamzah membuat peta Tanah Gewat + Kedah (Dah) Isaq + Kedah Ishaq (Linge) Kedah Malaka , Kedah Kutereje (Banda Aceh) . Peta ini tidak saya buat karena banyak tulisan yang kabur . Didalam peta ini tertulis lokasi, nama tempat, sungai, jalan raya, Kampung.
——-
Pada Halaman berikutnya tulisan Almarhum Hamzah yang dibuatnya 1 Januari 1984, Hamzah menulis Silsilah. Yaitu Silsilah Keturunan Syeh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala) Entah atau Muyang Kute dari Delung Sekinel Kutereje Linge Ke-Delung Tue Reje Guru Kecamatan Bukit S
Simpang III (Kabupaten Bener Meriah).
I. Tuen Ta’ Umar
II. Baginda Saleh
III. Jana Katib Tue
IV. Jana Katib Mude
Dari Tuen Ta’ Umar , turunan Pertama adalah Syeh Abdurraub (mungkin Abdurrauf) Fansuri Syiah Kuala , Entah, Muyang Kute, Datok Guru.
Blang Jorong Kecamatan Bandar adalah lokasi kuburan Syiah Kuala Kute Teras.
Panglime II—Genting Rappe (Kerampe)
Guru Morang (Situmorang)
Panglime III
Merah Genting
Panglime IV
Bener Kelipah
Panglime I
Guru Merut (Dikubukan hanya Rab)
Panglime V
Gempar Alam
Diantara Gempar Alam kanan dan kiri Adalah kuburan Umum (di Lokasi kuburan Blang Jorong).
1 (satu) sampai dengan Lima inilah Panglima Sekinel delung Linge Gayo Abad ke-17, mengelilingi Barus setelah ditangkap panglima Batak ini, sujud kepada ilmu Syiah Kuala dan mengelilingi seluruh Aceh dengan panglima yang lima orang ini berangkat setiap pergi jumlah kuburan Syiah Kuala 44 buah isinya kosong.
Diwasiatkan kuburannya :
1. Atan Buntul (diatas Bukit Kecil)
2. Tuyuhni Atu (dibawah batu)
3. Pake Rak (Parit) kelilingi
4. bagian Atas ada Rumah (Tuyuh Keleten)
——–
Silsilah Syeh Abdurraub Fansuri Muyang Kute
Syeh Abduraub memiliki dua istri. Istri Tue Delung Tue. Istri Mude Reje Guru. Dari istri tue lahir tiga anak. I. Muyang Ulu Tanoh Belang Kejeren. II. Muyang Mang Lho Seumawe.III Muyang Petukel Blang Jorong.
Muyang Ulu Tanoh Blang Kejeren tidak ditulis keturunannya. Hanya disebutkan keturunan di Belang Kejeren dan Meulaboh.
II. Muyang Mang Lho Seumawe-Muyang Kelowang—Bayu-Reje Banta-Abd Latif Aman Maryam-M.Yunus.
III Muyang Petukel Blang Jorong-Muyang Mungkur Isaq- Muyang Pase-Muyang Peterun-Dik La’i-Tgk. Mahmudin-Jakfar A. Guntur.
Dari Istri kedua Syeh Abdurraub Fansuri Muyang Kute, yakni Reje Guru-Muhd. Jewe Muyang Beram Lho Seumawe-Datu Penacih Bintang-Mukmin Tgk Bernun. Mukmin Tengku Bernun memiliki dua keturunan, M. Kuali dan Tengku Tapa.
M.Kuali memiliki keturunan Mohd Syeh Reje Guru dan Sulaiman. Muhammad Syeh Reje Guru memiliki dua istri. Anak dari istri Tua Syeh Reje Guru adalah (1) Keruh Reje Daud, (2) Inen Aminah, (3) Semi’ah Inen Catur , (4) Rani Inen Tetunyung, (5) Rukah Inen Banta.
Dari istri kedua Muhammad Syeh Reje Guru, ( 1) Jernih, Midah I Mude Entan (I), Bujang ( Syiah Kuala)…Bukit Muli. Dari Bujang (Syiah Kuala) (I) Hamzah Selaku Kuali Mahniar (II) Selamah Mirwan.
Keterangan :
Dikaki Gunung ada dua mata air. Yang satu airnya jernih dan yang satunya keruh. Kualanya ke air panas (Gunung Gerdong). Lahir anak Mohd Syeh (Reje Guru) sekali lahir anak istri tua dan istri muda, maka dinamai 1 Keruh, 1 Jernih.
—————–
Disalah satu halaman lainnya, sebut saja halaman terakhir dari tulisan tangan Hamzah, dia memakai dua halaman buku untuk menuliskan sebuah skema silsilah ,”Kute Kedah Asal Usul Datu Pitu”.
Skema Asal Usul Datu Pitu dimulai dari Adik Sultan Machdum Malik Ibrahim Sultan Perlak Syeh Abd. Malik Ibrahim Hak (Datu Peski) Tahun -80,6 (?) Kuburan di Kebayakan.
Tok Merah Mersa Negeri Isaq (Kuburannya di Belakang Pendopo Bupati Aceh Tengah)
1. Merah Putih (Pergi ke daerah Kiran dari Beracan, kemudian bernama Kampung Negeri Merah Due (Mereudu)
2.Merah Item (Pergi ke daerah Kiran dari Beracan, kemudian bernama Kampung Negeri Merah Due (Mereudu)
3.Merah Bacang Hulu Sungai Seunagon (Senedun)
4. Merah Jernang –pergi ke Barus (Tapanuli)
5. Merah Silu (Malik Ibrahim) –Pergi ke daerah Lukup dan Blang Kejeren. Malik Ahmad (Reje Jempa) pergi ke Jempa Pesangan yang mendirikan Kala Jempa periode II. Malik Saleh =Merah Silu II Reje Pase dan keturunanannya. Malik Abdullah (Raja Jempa) Merah Jepa (Miga) Merah Singkuna dan keturunannya.
6.Merah Pupuk (Pergi ke Negeri Daja)
7.Merah Mege (Yang jatuh kedalam sumur….(Loyang Datu) dekat Kute Rayang dan ditolong oleh seekor anjing.Si Pase anak yang paling kecil….ayahnya Tok Merah Mege..sedangkan sudaranya yang enam orang membiarkannya dalam sumur hingga datang ayahnya mengambilnya sendiri.
Dibawah skema silsilah ini juga ditulis tantang Buntul Linge :
Buntul Linge :
-Linge (Bukit)
-Jamat
-Delung
-Sekinel
-Pertik
-Nasuh
-Tukik
-Kutereje
-Payung
Beno Penarun
-Cik Beno
Owak
-Kerlang
Lot
Kala
Serule
Bukit
Cik
Lot
Gelung Perajah Gewat :
Nalun Gewat, Genting
Pengulu Akim (Tenamak)
Pengulu (Bedak Bale)
Pengulu Mungkur
Pengulu Uning
Pengulu Tiro (Cik Tiro)
Pengulu Bungkuk
Pengulu Owak
Pengulu Lumut
Pengulu Kung
Pengulu Loyang (Gunung) (Akim)
Kedah (Isaq)
Kute Keramil
Kute Meriem
Kute Rayang
Kute Robel
Kute Baru (Kerawang)-Gading-Kemulo-K
ala….-Air Asin-Pepumu Jagong-Gegarang
Gemboyah –Batu Lintang
Keterangan : Dari Sebelah Syeh Andurraub : Persembahyangannya, 1. Batu Mesjid. 2. Buntul Pedim.3. Buntul Uber-uber. 4. Buntul Drakal (Blang Rakal), 5. Buntul Wih Lukup-Buntul Telege (Lut Atas).
Tuen Ta’Umar : Terbang dari Mekah, Jatuk Pangkatnya di Lho Seumawe, sewaktu diambilnya pangkatnya itu terangkatlah dengan tanahnya, maka tanah itu langsung diangkat ke Bur Telong (Gunung Gerdong dan menjadi laut kucak (danau) kecil itu maka rasa air danau itu asin sampai sekarang. Diatasnya ada telaga kecil seperti dibeton dan persembahyangan. Nama pangkat Syeh (Tuen Ta’ Umar yaitu (Belah Kamar)
Datu Peski , Datu Peski (Abd Malik Ibrahi Ishak, kakeknya Merah Mege, kuburannya diats telaga Peski. Sekarang Kuburan Orang Gunung, sebelah Utara Kebayakan (Suami Istri). Dan Merah Mersa dikuburkan di Belakang Pendopo Takengon (di dapur rumah bupati). Dan Merah Mege berkubur di di Dekat Loyang Datu Isaq dan saudaranya yang enam semua melarikan diri membuka negeri masing-masing sebagaimana diatas takut kena ancaman dari Bapaknya dari Bapaknya Muyang Mersa akibat menjatuhkan adiknya kedalam Sumur.
Keterangan lainnya di halaman ini, diterangkan :
Kejurun (Presiden)
Arti Kejurun (Presiden) Juru Mudi
Juru Kemudi, Juru membuka negeri
Juru mengharungi air bah
Reje (Raja, Wakil Presiden)
Arti Reje (Raja) Remalan Jemot, Remalan Jem, Remalan Jamut, Renelen Jemen (Reje)
Dihalaman Asal Usul Datu Pitu ini, disebutkan Penulis Wasiat adalah Raja Cik Gelung Prajah Gewat Mohd. Asa Saleh Abarita (Bertanda tangan),
Banyak orang yang mengeluhkan bagaimana langkanya sebuah buku tentang sejarah Gayo, secara ilmiah atau versi dongeng yang didongengkan pengantar tidur. Itupun dahulu kala. Karena orang tua di Gayo saat ini, tidak lagi pernah mengantar tidur anak atau cucunya dengan “Dongeng Kerajaan Linge”, karena digantikan sinetron.
Misteri Gayo, sejarah , budaya dan peradabannya, memang belum terbuka penuh. Penggalan-penggalan, kepingan data , fakta dan dongeng tentang sejarah Gayo, suhuf –suhuf yang tersebar (istilah Yusradi Usman Algayoni, Mahasiswa S-2 USU Medan , Geo Linguistic ), masih tersebar. Sebarannya bisa dimana saja di Antero Aceh , Indonesia bahkan dunia. Karena saat Van Dalen membantai kawasan pedalaman Aceh Pegunungan, dalam rangka memperluas jajahannya , pasukan Belanda selain mengeksekusi warga Gayo dalam benteng-benteng pertahanan dengan senjata moderen senjata api laras panjang dan pendek, juga membawa barang berharga milik Kerajaan Linge. Bahkan konon, di Museum-Museum Belanda banyak disimpan barang milik Kerajaan Linge atau penduduk Linge. Demikian halnya di Perpustakaan Leiden Belanda, terdapat tidak kurang dari 15 buku tentang Gayo.
Gayo di jaman pra sejarah malah terkuak dan Absolut sudah ada hunian di Dataran Tinggi Gayo (Datiga) , Tepatnya di ( Rock Shelter / Abris Sous Roches Mendale ) Ceruk Mendale, Kecamatan Kebayakan sejak 3500 tahun lalu. Hal ini dibuktikan oleh peneliti Balai Arkeologi Medan (Balar) dengan ditemukannya ‘Batu Kapak Persegi” yang berusia 3500 tahun.
Fakta ini menunjukkan bahwa Ceruk Mendale pernah dihuni oleh peradaban Neolitik 3500 tahun lalu.Akhir – akhir ini, gerakan atau keinginan untuk mulai mengumpulkan kepingan sejarah gayo yang tersisa mulai santer dikalangan generasi muda Gayo. Bukan berarti generasi gayo menjadi rasis atau ekslusif, tapi karena keinginan mengetahui identitas dan tentu saja harga diri sebagai sebuah suku, bangsa yang selama ini dimarginalkan dalam banyak hal. Sayangnya lagi, sebagian generasi gayo lainnya yang permissive, tidak peduli pada identitas diri sebagai “Urang Gayo” yang dikenal sangat demokratis dengan sistim pemerintahan “Sarak Opat”. Pemerintahan yang Demokrasi dan bukan Kerajaan yang turun temurun.
Ada pencerahan sejarah Gayo dari bangkitnya generasi gayo saat ini akan pentingnya sejarah sebagai identitas diri. Bukan hanya sejarah saja, tapi juga upaya penyelamatan “Basa Gayo” yang dikenal sangat lengkap, santun dan berbeda dengan bahasa Aceh umumnya di daerah Pesisir.
Adalah tugas berat selanjutnya untuk kembali menggali , menyatukan kepingan yang tersisa dari sejarah gayo. Ada kemauan , ada jalan. Walaupun diperlukan beberapa generasi kedepan agar rangkaian sejarah tersambung lagi dengan baik dan benar dan tentu saja ilmiah. Bismillah…..

ALA, Sejarah yang Terkoyak

Oleh: Yusra Habib Abdul Gani *
AKANKAH dua kuntum bunga––Renggali-Seulanga––rontok dari kelopaknya? Secara politis, bukan mustahil wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) akan terkoyak geografinya, seandainya pembentukan propvnsi Aceh Leuser Antara (ALA) menjadi kenyataan. PP No. 78/2007 sebagai pengganti PP No. 129/2000 dasar hukumnya.
Mekanisme perundang-undangan dan kemauan politik (political will) DPR-RI dan Pemda, sebelumnya tersandung. Penguasa NAD tak rela berpisah, sementara perwakilan dari Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara dan Aceh Singkil, tak mau lagi tinggal serumah dan sudah berbenah ingin berpisah. Keengganan berpisah, mungkin karena alasan sejarah, sosial budaya atau ingin mempertahankan prestise rapuh (pragile prestige), yang seakan-akan perpisahan ini menggugat wibawa Pemda Aceh dan memperuncing perbedaan politik dan budaya antara komunitas Gayo dan komunitas Aceh Pesisir yang sejak ratusan tahun telah hidup bersama, senasib dan seperjuangan. Dalam konteks inilah yang diulas di sini. Secara sosiologis, Renggali-Seulanga seumpama lirik lagu, yang baru bisa dinikmati lantaran paduan dari beberapa jenis instrumen musik yang saling mendukung. Berbeda bunyi tapi konsep dan kuncinya sama. Begitulah kehidupan politik dan sosial budaya antara komunitas Gayo dan Aceh Pesisir. Persis seperti diilustrasikan dalam lirik Didong (group Musara Bintang): “Renggali Megah i Bireuën, i Takéngon bunge Seulanga”. Indikasi adanya korelasi ikatan sejarah dan sosial budaya yang menghubungkannya.
Perbedaan juga ada, misalnya: “Pakriban u meunan minjeuk; Pakriban du meunan aneuk” (Bagaimana Kelapa, begitu pula minyaknya; Bagaimana Ayah begitu juga anaknya). Sedang dalam falsafah Gayo; [i]“Anakni reje mujadi kude, anak ni Tengku mujadi asu” (anak raja bisa jadi kuda, anak Tengku bisa jadi anjing). Model pertama mengikuti teori integral (pembulatan), sedang model kedua mengikuti teori deferensial (relativitas). Toh, dalam sejarahnya, kedua model ini bisa bersatu dalam adonan kimiawi sosial-politik, hingga mampu melahirkan bangunan negara “Aceh” di masa lalu.
Secara historis, Renggali-Seulanga bagaikan organisme tubuh yang saling ketergantungan. Hidup bersama dalam wadah Aceh, sebagai negara merdeka dan berdaulat. Fakta sejarah membuktikan bahwa, Sultan Aceh memberi hak penuh kepada raja-raja seluruh Aceh, untuk mengatur negeri masing-masing, termasuk memberi hak kepada Reje Linge untuk mencetak uang Aceh (Ringgit) yang dipercayakan kepada “Kupang Repèk” di Takéngon, khusus untuk keperluan hantaran uang dalam perkawinan dan transaksi perdagangan lokal. Hak ini diberi, atas pertimbangan sarana transportasi dan komunikasi yang sukar dijangkau pada masa itu. Reje Linge, akan melaporkan jumlah uang yang dicetak kepada Sultan Aceh. Ini merupakan fakta yang tidak kurang menariknya dalam sejarah Aceh.
Untuk melihat bagaimana membangun kepercayaan (trust building) antara Renggali-Seulanga, bisa dilihat dari fakta sejarah sebagai berikut. Meurah Johan Syah Al-Khahar (anak Raja Linge) misalnya, megah sebagai Renggali di Aceh Pesisir. Beliau diangkat menjadi Sultan Aceh Darussalam pada hari Jumat, 1 Ramadhan tahun 601-631 H (1205-1234 M) dengan gelar Sultan Alaidin Johan Syah. “…Dalam Kerajaan Aceh Darussalam, yang akan menjadi rajanya ialah kebenaran, keadilan, persaudaraan, persamaan, perdamaian, keikhlasan dan cinta kasih dan siapapun tidak boleh memperkosa dasar-dasar ini“ (Meurah Johan, Sultan Aceh Pertama. A Hasjimi. Bulan Bintang, 1976, halaman 103). Meurah Johan Syah sebagai panglima perang yang menaklukkan Johor dan Meurah Johan Syah-lah sebenarnya peletak dasar penyatuan seluruh Aceh (sebagaimana wujud sekarang). Sementara Ali Mughayat Syah –Sultan Aceh pertama– yang berkuasa tahun 1500-an dalam keadaan terima jadi.
Datu Beru –sepucuk Renggali– satu-satunya wanita yang duduk dalam Parlemen Aceh di masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah. Sebagai seorang filosuf, ahli hukum dan politisi kondang, beliau berani berhujjah dengan Qadhi malikul ’adil dalam kasus pembunuhan Bener Meria (anak kandung Meurah Johan) oleh Reje Linge ke-12. Teungku Tapa adalah Renggali yang harum di Aceh Timur saat peperangan melawan penjajah Belanda. Karena keberaniannya, hingga Komando Pusat Militer Belanda mempropagandakan bahwa Teungku Tapa enam kali mati.
Malik Ahmad, anak kandung Meurah Sinubung (cucu Munyang Mersa) diangkat menjadi Raja Jeumpa menggantikan mertuanya, karena berhasil menghentikan perseturuan antara kerajaan Jeumpa dan Samalanga. Meurah Silu, adik kandung Malik Ahmad, dilantik menjadi raja Pasé pertama, karena kualitas ketokohannya yang berhasil menghentikan perang antara Lhôk Sukon dan Geudông. Kata “Meurah” dalam bahasa Gayo, berarti “Malik” dalam bahasa Arab. Kata “Silu” dalam bahasa Gayo, bermakna “saléh” dalam bahasa Arab. Itu sebabnya, Renggali dari dataran tinggi Gayo ini kemudian populer dengan panggilan Sultan Malikussaléh.
Selain itu, Meurah Pupuk, yang mengembangkan agama Islam ke Lamno Daya; Meurah Bacang, yang mengembangkan agama Islam ke Tanah Batak; Meurah Putih dan Meurah Item (Hitam), yang mengembangkan agama Islam ke daerah Beracan Meureudu; Meurah Jernang, yang mengembangkan agama Islam ke Kalalawé Meulabôh; Meurah Silu (bukan Meurah Silu yang kemudian menjadi Raja Pasé), yang mengembangkan agama Islam Gunung Sinubung Blang Kejeren, adalah juga Renggali-Renggali yang megah dalam sejarah pengembangan Islam di Aceh. Sampai sekarang keturunan mereka masih memakai gelar “Meurah”, yang berasal dari keturunan Munyang Mersa, nenek moyang orang Gayo.
Tokoh Gayo di atas adalah Renggali-Renggali berasal dari jenis benih unggul, yang watak dan kualitasnya melebihi standar umum dan dipandang sebagai representatif dari semua sebutan dan jenis Renggali yang kita kenal. Keharuman Renggali unggul ini menembus tembok sentimen sukuisme, clan, fanatisme dan ethnosentris yang kaku. Mereka mampu mengalahkan harumnya bunga-bunga dari jenis lain, sekalipun Seulanga di Aceh Pesisir, yang datang bertandang dari kaum minoritas, tetapi mampu bersaing secara sehat dalam kancah politik Aceh, megah dan dikagumi.
Sementara itu, figur Seulanga di Gayo lebih dikenal sebagai toke. Lintas-dagang antara dataran tinggi Gayo dan Pesisir sudah berlangsung lama sekali. Kita bisa saksikan, pusat perdagangan strategis di kota Takengon dan daerah sekitarnya, didominasi oleh saudagar asal Aceh dan imigran asal Minangkabau. Orang Gayo tidak merasa iri dan benci, walau wilayah kedaulatannya dicoup oleh asing. Selain itu, interaksi sosial terjadi karena hubungan perkawinan. Diakui bahwa, silang budaya seni antara Seulanga-Renggali tidak mungkin dipadu, tapi tidak pernah beradu. Perbedaan bahasa bukan faktor perenggang dan berinteraksi, karena bahasa Melayu dipakai sebagai pertuturan sehari-hari. Bahasa Melayu adalah bahasa resmi di Aceh dari zaman dahulu sampai sekarang. Surat-menyurat resmi, seperti: surat Panglima Polém Cs yang mengajak Teungku Tjhik Mahyuddin di Tiro menyerah pada tahun 1907 ditulis dalam bahasa Melayu Jawi, bukan bahasa Aceh.
Kisah di atas adalah khazanah cerita lama. Sekarang segalanya sudah berubah, terjadi globalisasi dan pergeseran nilai-nilai budaya yang terus menggerogoti keaslian budaya kita. Dan inilah kebodohan kesejarahan kita. Di kalangan komunitas Gayo, terjadi proses pemudaran (ubes). Renggali yang dahulu pernah mekar, kini tidak lagi harum di Aceh. Dalam konteks ini ada dua faktor penyebab. Pertama, faktor intern, yakni kurangnya penghayatan nilai-nilai sejarah Gayo dan masih mempertahankan nilai-nilai lama yang tidak seiring dengan tuntutan zaman. Padahal Tjèh Toèt pernah berdendang; “Tutu mesin gere mubelatah, mah ilen ku roda. Rôh ke lagu noya” (Padi yang digiling di pabrik sudah bagus, buat apa dibawa lagi ke Roda. Logiskah itu?) Secara pragmatis, Toét mengajak agar bersikap terbuka, kritis, peka dan cerdas membaca tanda-tanda zaman. Kedua, faktor extern, yakni munculnya krisis kepercayaan dengan menyekat Renggali-Renggali untuk berperan dalam jajaran birokrasi, khususnya di tingkat provinsi. Tindakan ini dilakukan secara sistematis lewat dominasi clan dan sentimen kesukuan terselubung. Misalnya saja, dari 21 gubernur Aceh (mulai Teuku Nyak Arief – 1945-1946 sampai kepada Irwandi Yusuf – 8 Februari 2007-2012), tidak sekuntum Renggali pun dipetik. Soalnya ialah tidak memenuhi standar verifikasi kualitas atau korban dari ketidakpercayaan? Hal ini perlu dikaji dan didiskusikan.
Yang menjadi kendala laten di kalangan kita ialah masih kentalnya budaya tabu dan “tak enak” mempersoalkan secara terbuka masalah politik dan sosial kemasyarakatan dalam urusan intern Aceh. Ini merupakan faktor penghalang untuk menyatukan persepsi tentang Aceh dalam arti perasaan memiliki dan tanggungjawab bersama. Jika nilai-nilai budaya tadi masih terus dipertahankan, sudah tentu melahirkan rasa cemburu dan praduga negatif antara sesama, sebab setiap institusi kemasyarakatan memiliki sentimen; rasa kebanggaan terhadap seni budaya, resam dan sejarah masing-masing.
Dalam kaitan itulah, orang Gayo merasa berjasa dalam sejarah kepemimpinan Aceh lewat Renggali-Renggali yang harum, tetapi tidak menduga kalau satu saat, jasa itu tidak dikenang dan tidak dihargai orang, lemas dalam cemas. Ketika tengah berada dalam situasi yang demikian, barulah orang Gayo nyeloteh; “Kusuen Lumu murip we kerlèng, kusuen budi murép we rèngèng”(Kutanam Keladi tumbuh juga enceng gondok, kutanam budi tumbuh juga lirikan sinis). Dalam dinamika sosial, melupakan jasa adalah sah-sah saja. Dalam pepatah Aceh disebut: “Leupah krueng, glung rakit” (Selamat ke seberang sungai, tendang rakit). Hal ini terjadi disaat Renggali dinilai tidak lagi diperlukan sebagai tiang penopang. Bagaimanapun juga, tindakan seperti ini, bukan berarti mengubur atau mengurangi arti sejarah itu sendiri.
Akankah Renggali tidak megah lagi di Bireuen, dan Seulanga tidak megah lagi di Takengon? Secara politik-geografi akan terbukti seandainya provinsi ALA wujud. Jika kita mau jujur, kehadiran provinsi ALA sebenarnya konsekuensi logis dari prilaku kolektif, yang selama bertahun-tahun menabur ketidakpercayaan, pilih kasih dan ketidakadilan dalam konstribusi dan peluang berpartisipasi dalam birokrasi kepada non komunitas Aceh Pesisir.
Sekarang, tibalah waktunya kita menuai Provinsi ALA. Bersyukurlah! Mengapa mesti ditolak, dibenci dan munafik. Inilah hasil karya kita. Apalagi Provinsi NAD dan ALA berada dalam kandungan NKRI dan sama-sama satu Ibu dan menyusu kepada induknya – Jakarta. Malah sepuluh provinsi lain boleh saja lahir di bumi Aceh, yang pasti, Aceh sudah memiliki surat tanah -sertifikat- sebagai bukti sebuah negara berdasarkan peta yang dibuat dibuat oleh Inggeris tahun 1883 dan 1890. Ketahuilah Renggali selamanya akan mencintai Seulanga, tapi cinta tak mesti harus bersatu. Bukan?
*Penulis adalah Director Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark

tari saman di bajak

Oleh: Sabela Gayo *
Tari saman adalah sebuah tari tradisonal yang berasal dari daerah lokop serbejadi (Aceh Timur) dan Blangkejeren (Gayo Lues). Dalam berbagai sumber sejarah yang ada Tari Saman sebenarnya untuk tingkat Provinsi Aceh berasal dari kedua daerah tersebut yaitu Lokop Serbejadi dan Blangkejeren. Bahkan di Aceh Tengah dan Bener Meriah sendiri yang notabene merupakan daerah Gayo, bukan asal dari Tari Saman. Karena seni budaya yang lebih berkembang di Dataran Tinggi Tanoh Gayo khususnya Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah kesenian Didong, Sebuku, dll.
Konon pada mulanya Tari Saman diciptakan oleh seorang ulama yang menyebarkan agama islam yang bernama Syech Saman. Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, seni budaya merupakan salah satu media penyampaian dakwah yang paling efektif bagi penyebaran nilai-nilai dan syiar islam di kala itu. Melalui seni-budaya biasanya masyarakat dengan cepat dan mudah menerima dan memahami pesan-pesan dakwah islam yang disampaikan melalui media seni budaya.
Pada era globalisasi, seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, seni-budaya merupakan salah satu media yang paling efektif untuk menjalin hubungan dan komunikasi dengan dunia luar. Sedemikian pentingnya peran seni-budaya sehingga banyak Negara yang melakukan pertukaran delegasi seni-budaya dalam rangka semakin mempererat tali persaudaraan dan kesepahaman diantara sesama bangsa-bangsa di dunia. Karena demikian penting dan sakralnya sebuah identitas budaya bagi sebuah komunitas masyarakat adat sehingga masyarakat adat Bali menjadi resah ketika kelompok-kelompok tertentu di Malaysia mengklaim bahwa Tari Pendet adalah kebudayaan asli Malaysia.
Demikian halnya dengan Tari Saman yang sangat diminati dan disenangi oleh berbagai kelompok masyarakat pada setiap penampilannya. Dimana terbukti setiap kali penonton menyaksikan pementasan Tari Saman selalu berdecak kagum dan memberikan aplus yang luar biasa dalam setiap penampilannya. Kekaguman penonton mungkin dikarenakan oleh gerakan-gerakan Tari Saman yang sangat serempak dan rapi dengan semangat para penarinya yang berapi-api. Tetapi sayangnya sekarang ini, banyak para koreografer-koreografer tari ataupun pencipta-pencipta tari dengan berkedok dan berdalih TARI KREASI BARU, menjiplak, meniru dan mengambil gerakan-gerakan Tari Saman pada intinya dengan menambahkan alat-alat musik tertentu untuk menyamarkan gerakan-gerakan Tari Saman yang dicontoh, ditiru dan diambil tersebut. Kalau namanya Kreasi Baru, seharusnya merupakan tari-tarian yang sebelumnya tidak ada menjadi ada, yang semula gerakan-gerakan tarinya tidak ada dan tidak dikenal kemudian menjadi ada dan dikenal. Demikian pemahaman saya tentang Kreasi Baru dari segi bahasa, entah apakah pemahaman saya itu sama dengan pencipta-pencipta seni lainnya atau tidak. Wallahua’lam bissawab.
Hal tersebut diatas sebenarnya tidak seberapa dan belum apa-apa jika dibandingkan dengan kondisi terakhir dimana Tari Saman sudah ditampilkan dengan penyampaian syair-syairnya yang tidak lagi memakai bahasa dan baju adat Gayo dan banyak Sanggar Tari di Aceh yang sudah mengubah syair-syair Tari Saman kedalam bahasa-bahasa lain selain Bahasa Gayo, bahkan para penari-penarinya pun sudah memakai baju adat lain dan tidak lagi memakai baju adat Gayo. Kondisi itu tentu sangat menyedihkan dan menyakitkan perasaan ke-Gayo-an kita dimana Seni Budaya kita khususnya Tari Saman sudah dibajak oleh orang lain dengan alasan-alasan yang tidak jelas. Gerakan-gerakan tarinya ditiru, dijiplak dan diambil tetapi identitasnya berupa bahasa dan baju adat ditinggalkan. Dan hal itu terjadi di depan mata kita, tetapi mengapa kita hanya diam saja?.
Kita tidak ingin kondisi Tari Saman akan bernasib tragis sama seperti Tari Pendet dimana Negara lain mengklaim bahwa Tari Pendet itu adalah miliknya. Tapi kalau kita mau jujur Tari Pendet masih lebih untung dan baik kondisinya dibandingkan dengan Tari Saman. Kalau Tari Pendet, hanya kepemilikannya saja yang diklaim oleh Negara lain tapi gerakan-gerakan tarinya, baju adatnya, bahasa penyampaian syair-syairnya masih menggunakan bahasa bali dan memakai baju adat Bali (walaupun menurut kita baju adat Bali itu melanggar syari’at). Tetapi kalau Tari Saman kondisinya lebih parah lagi, gerakan-gerakan tarinya ditiru / dipelajari / dijiplak / diambil, baju adatnya ditukar dan bahasa penyampaian syair-syairnya pun ditukar ke dalam bahasa lain dan baju adat lain. apabila kondisi ini terus-menerus kita biarkan dan kita anggap enteng bukan tidak mungkin suatu saat nanti Tari Saman akan diklaim menjadi milik orang lain dan bukan lagi milik masyarakat Gayo?, masuk akal kan?. Kalau lah seandainya Tari Saman diklaim menjadi milik orang lain tetapi gerakan-gerakan tarinya, bahasanya masih menggunakan bahasa Gayo, dan para penarinya pun masih memakai baju adat Gayo, mungkin kita tidak terlalu sedih tetapi sekarang kondisinya tidak demikian.
Datu orang Gayo menciptakan Tari Saman dengan perpaduan gerakan-gerakan yang serempak dan enerjik dan kemudian memiliki daya tarik tersendiri bagi orang yang menyaksikannya mungkin merupakan suatu karunia dan rahmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada masyarakat Gayo. Karena itu masyarakat Gayo harus mensyukuri karunia, rahmat dan pemberian Allah SWT tersebut dengan cara menjaganya, merawatnya, mengembangkannya dan melestarikannya. Sama seperti halnya dengan anak/mobil, ketika kita memperoleh karunia oleh Allah SWT berupa seorang anak maka tentunya kita akan menjaganya, merawatnya, melindunginya dan memberikan pendidikan yang layak baginya. Itu adalah bentuk rasa syukur kita atas karunia Allah SWT tersebut. Kalau rasa syukur itu tidak kita lakukan berarti kita termasuk orang-orang yang tidak mau bersyukur!. Bukankah Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya “ Apabila engkau bersyukur akan nikmat-Ku maka niscaya akan kutambah nikmat itu, tetapi apabila engkau ingkar, ingatlah sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Kasus pembajakan Tari Saman ini dapat kita jadikan sebagai bahan renungan dan instropeksi diri, apakah kita sebagai orang Gayo selama ini telah bersyukur kepada Allah SWT dengan segala karunia, rahmat dan pemberian-Nya? Baik itu berupa tanah pertanian yang subur, seni tari yang indah, bahasa yang luar biasa dan budaya serta peradaban yang tinggi. Coba bayangkan jika gerakan-gerakan Tari Saman sudah ditiru/dijiplak/diambil, baju adat dan bahasa penyampaian syair-syairnya pun sudah diubah, bagaimana orang lain bisa mengenal dan mempelajari bahasa, seni dan budaya Gayo ?. bagaimana orang lain bisa tahu kalau diatas bumi ini ada yang namanya Suku Gayo?. Dan mungkin juga Tari Saman itu merupakan suatu jalan yang diberikan oleh Allah SWT bagi orang Gayo untuk bisa dikenal secara luas oleh masyarakat-masyarakat lain di dunia melalui jalur seni dan budaya. Tetapi pada kenyataannya hari ini, gerakan-gerakan Tari Saman sudah ditiru, dijiplak bahkan diambil kemudian bahasanya dan baju adat para penarinya sudah diubah sedemikian rupa oleh kelompok-kelompok tertentu dengan seenaknya, jika kondisi itu terus kita biarkan dan kita menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar-wajar saja maka berarti kita adalah termasuk manusia yang tidak bersyukur tadi dan tidak mempunyai tanggung jawab moral terhadap kesenian kita sendiri. Dan bukan tidak mungkin apabila kita lalai, suatu saat nanti Tari Saman akan diklaim menjadi milik kelompok masyarakat lain.
Bahkan sekarang ini sudah ada opini yang berkembang bahwa seolah-seolah Tari Saman itu adalah milik sekelompok masyarakat tertentu. dan ada sebuah proyek pendidikan di Aceh yang di danai oleh USAID DBE 2 yang mengembangkan Tari Saman bukan dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Gayo dan para penarinya pun tidak memakai baju adat Gayo. Bahkan mereka membuat VCD yang berisi instruksional Tari Saman dalam bahasa Aceh, Inggris dan Indonesia dan disebarkan ke Sekolah-Sekolah Dasar di Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, dan Aceh Tengah agar dapat dipelajari oleh siswa-siswa SD yang notabene adalah generasi penerus. Yang apabila kondisi ini dibiarkan maka anak-anak SD yang ada di Gayo akan mempelajari Tari Saman dalam bahasa lain yang sebenarnya asal Tari Saman itu adalah dari Gayo. Ini sangat ironis sekali. dan mereka beralasan mengapa mereka lakukan seperti itu karena bahwa “kondisi yang demikian yang sekarang terjadi secara nyata di lapangan dimana Tari Saman sudah ditampilkan bukan lagi dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Gayo dan para penarinya pun sudah tidak lagi memakai baju adat Gayo”. Alasan yang demikian itu, tentu saja semakin memompa semangat kita untuk mengadvokasi Tari Saman secara sistematis. Sebelum hal itu terus berlanjut maka kita sebagai generasi muda Gayo harus mengambil langkah-langkah penyelamatan baik secara hukum maupun non hukum, di luar pengadilan maupun di dalam pengadilan dalam rangka mengembalikan marwah dan identitas kita sebagai sebuah komunitas yang kaya akan seni dan budaya. “Kalau warisan datu kita yang sudah ada saja, yang berupa Tari Saman tidak bisa kita jaga, saya kira kita jangan bermimpi untuk meraih sesuatu yang sama sekali belum ada”.
Gerakan penyelamatan Tari Saman yang akan kita lakukan bukan bermaksud untuk melarang agar Tari Saman jangan ditampilkan oleh orang lain/kelompok lain. Bahkan sebaliknya kita sebagai masyarakat Gayo akan semakin bangga mengaku bahwa kita orang Gayo karena memiliki seni-budaya yang indah dan diminati oleh orang lain. Dan juga gerakan penyelamatan Tari Saman yang akan kita lakukan bukan untuk memunculkan konflik baru di tengah-tengah masyarakat/mengkotak-kotak
kan masyarakat antara satu dengan yang lainnya. Tetapi gerakan yang akan kita lakukan adalah murni gerakan penyelamatan seni-budaya dalam rangka melindungi aset seni dan budaya GAYO agar tetap lestari sampai ke akhir zaman. Jadi kita tidak perlu “kemel” atau merasa ini hal yang tabu untuk diadvokasi. Dan Tidak ada unsur-unsur sentimen kesukuan/primordial dalam gerakan ini. Kapan lagi bahasa Gayo mau dipelajari oleh orang lain kalau bukan melalui Tari Saman? Dan kapan lagi budaya Gayo akan dikenal oleh kelompok masyarakat lain kalau bukan melalui Tari Saman?, Apakah ketika Tari Saman yang dibawakan dengan bahasa lain dan baju adat penarinya juga lain, namanya tetap Tari Saman?. Atau namanya berubah menjadi Tari Samin? Atau bahkan Tari Samun?, wallahu’a’lam bissawab.
Bukankah ketika salah satu irama lagu Peterpen yang dinyanyikan oleh penyanyi India dalam bahasa India dengan irama musik yang sama dengan yang dimiliki oleh grup musik Peterpen beberapa waktu yang lalu, itu sudah dikategorikan sebagai sebuah bentuk pembajakan? Apa bedanya dengan kondisi Tari Saman hari ini?. Kalau kondisi seperti ini terus kita biarkan dimana setiap sanggar tari di Aceh yang membawakan/menampilkan Tari Saman selalu menggunakan bahasa dan baju adat lain dan tidak menggunakan bahasa dan baju adat Gayo.maka cepat atau lambat Tari Saman akan menghilang dari Gayo, sama halnya dengan kondisi bahasa Gayo yang hampir punah. Sungguh tragis!!!.

panglima aman dimot

Aman Dimot lahir di Tenamak Kecamatan Linge Isaq tahun 1900. Beliau menyelesaikan pendidikan membaca Al Qur’an di Desa kelahirannya. Pendidikan, pengalaman dan lingkungannya telah membina Aman Dimot hidup sederhana, beriman teguh, jujur dan memiliki prinsip yang kokoh. Perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat berkesan dan tidak dapat di lupakan.
Ketika berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai di Takengon awal September 1945, Aman Dimot menggabungkan diri ke dalam Lasykar barisan berani mati, kemudian kedalam Lasykar Mujahidin yang dipimpin oleh Tgk. Ilyas Lebe dan Tgk. M. Saleh Adry. Pada tanggal 25 Mei sampai dengan 10 Juli 1945, Aman Dimot mengikuti latihan kemeliteran yang diselenggarakan oleh Dewan perjuangan Rakyat (DPR) di Takengon dipimpin oleh Moede Sedang, dilatih oleh Nataroeddin, Komandan Kompi 16 Tentara Republik Indonesia. 2)
Ketika terjadi agresi meliter Belanda kedua 19 Dessember 1948, Belanda bergerak memperluas serangan dari Medan ke Langkat dan Tanah Karo menuju Aceh. Proses sejarah perjuangan merintis, merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia membuktikan bahwa Aceh Tengah berani mengirim pasukan dan bahan pangan ke medan pertempuran di luar Daerah. Tidak kurang dari lima gelombang pejuang dari Aceh Tengah, dengan gigih merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dimedan pertempuran Aceh Timur, Langkat, Medan, Tapanuli dan Karo, bahkan sampai ke Bonjol Sumatra Barat.
————————–
——————–
1) Panglima atau Pang di Gayo adalah gelar yang diberikan masyarakat pada seseorang yang memiliki keberanian luar biasa melawan musuh. Nama asli Aman Dimot adalah Abu Bakar bin Utih.
2) Surat tamat latihan Kemeliteran, 10 Juni 1946. Pada bulan April 1949, Lasykar pejuang dari Aceh Tengah menuju perbatasan Aceh-Langkat, dipimpin oleh Tgk. Ilyas Lebe, Tgk. Saleh Adry dan Abd. Karim Atang Muguril untuk bersama pasukan lainnya untuk mempertahankan kemerdekaan di tanjung Pura. Sementara itu Belanda menyerang pasukan Indonesia di tanah karo.
Tgk. Ilyas Lebe kembali ke Takengon dan menyusul pasukan “BAGURA” (Barisan Gurilya Rakyat) untuk ikut mematahkan serangan Belanda di Tanah Karo. Bagura memiliki 300 personel, 200 orang dari Takengon dan 100 dari Belang kejeren dan Kutacane, dikoordiner oleh Tgk. Ilyas Lebe. Personel yang dapat dicatat antara lain : Abd. Rahman Ali gayo (Ajudan koordinator), Chairul Bachari (Sekretaris), Hasiluddin (Kesehatan), Zulkifli (Angkutan), Saifuddin Kadir (kuril), Ali Hasan, Agus Salim, Gundala Pati, M. Yasin Bale, Adam Isaq, Aman Ridah, Z. Kejora, Aman Jauhari, Usman, muse, Adam, Ali dan beberapa orang bergerak “panglima : Panglima Aman Dimot, panglima Ali, panglima Alim dari Takengon, panglima Daling, panglima Kilet dan panglima Sekunce dari Blang Kejeren. 3)
Mereka dibagi atas empat kelompok yaitu Barisan Berani Mati, Barisan Jibaku, TRI dan Pasukan Berkuda, Masing-masing bertugas sebagai penyerang pertama, penyerang kedua pengepung dan penembak serta pengangkut perbakalan dan amnisme. Atas perintah Komandan Resimen Devisi Tgk. Tejik Di tiro dan dengan persetujuan Gubernur meliter Aceh, Langkat dan Tanah karo, Bagura bergerak menuju Font Tanah karo pada hari Rabu bulan Mei 1949 4) melalui route Takengon-Blangkejeren dan Kutacane sejauh 265 km dengan berjalan kaki, kecuali Takengon-Waq sejauh 60 km dengan menggunakan truck.
Ini merupakan gelombang kelima belas atau terakhir pemberangkatan pejuang dari Aceh Tengah untuk mempertahankan Kemerdekaan RI di luar daerah menjelang pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia.
———————————————-
3) Catatan dan wawancara H. Abd. Rahman Aly Gayo, 5 February 1981 di banda Aceh.
4) Catatan Bagura, Juli 1949.
Bagura berangkat dari Takengon menuju Waq secara berangsur selama dua hari, menggunakan truck milik seoarang warga negara Cina Bunchin, dikemudikan oleh Ja’far. Mereka memakai pakaian seragam dan ikat kepala kain berwarna merah. Sebagian tidak memiliki pakaian seragam, ada bersepatu dan ada yang tidak, dilengkapi dengan beberapa pucuk senjata api dan sebagian besar pedang. 5)
Menjelang keberangkatan Bagura ke Karo, Aman Dimot menyatakan kepada isteri dan anak-anak belliau :
“Jaga anak kita baik-baik. Saya tidak akan kembali kesin lagi. Maafkan kesalahan saya”.
Mereka saling bersalam. Anak-anak beliau memeluknya, seraya manangis melepas suami dan ayah tercinta dengan do’a. syekh Ahmad-anak beliau-ingin melawan Belanda bersama ayahnya, tetapi Aman Dimot tidak mengizinkannya. Syekh Ahmad semakin bersedih ketika menatap ayahnya diatas truck, mengucapkan “BISMILLAH, ALLAHU AKBAR”, penuh semangat.
Ketika pasukan Bagura hari hari pertama tiba di Waq, Aman Dimot meminta kesediaan Tgk. M. Saleh Adry untuk membawa anaknya-Syekh Ahmad-ke Reruang bersama anggota pasukan yang diberangkatkan ke Waq hari kedua. Aman Dimot berburu rusa di Gelampang untuk perbekalan, sambil menuggu anaknya dan pasukan Bagura hari kedua. Beliau bersama Tgk. Ilyas Lebe, Tgk. M. Saleh Adry, dan Syekh Ahmad, bermalam dirumah Sumaraji di Reruang, ketika tengah malam, Aman Dimot memandikan Syekh Ahmad disebuah anak sungai sambil berdo’a agar anaknya dapat mengamalkan ilmu yang dimiliki ayahnya. Kemudian Aman Dimot berkata : “Win-anakku-,ayah hendak pergi berperang. Sekirannya bertuah, ayah akan kembali. Ayah ingin membela agama, bangsa, negara dan kakekmu yang dibunuh Belanda dijembatan Bale Lanjutkan perjuangan bila ayah berpulang ke Rahmatullah”. 6)
———————————————-
5) Surat lebaran “Perang dan Idul Fithri, Zuska, Analisa Minggu, 2 September 197.
6) Wawancara dengan Isteri dan anak Aman Dimot, Samidah dan Syekh Ahmad di Remesen, 15 Juli 1974. “Win”(Bhs. Gayo) adalah panggilan kasih sayang kepada seorang lelaki.
Pukul 08.00 hari Jum’at, M. Jamil membunyikan terompet, anggota Bagura berkumpul di Waq dan menyusun barisan menurut kelompok yang sudah ditetapkan. Syekh Ahmad menyusup dibarisan belakang pasukan berkuda, untuk memenuhi keinginannya ikut bersama ayahnya melawan Belanda.
Dengan pekik “Allahu Akbar” dan “Merdeka”, Bagura bergerak berjalan kaki menuju Tanah Karo, melalui route Lumut, Ise-Ise, Kenyeren, Belangkejeren, Uten Pungke, jamur Duwe, Umah Bundar, gunung Setan (Louser), Simpang Tiga Junger, Tanah Merah, Kutacane, Pemanting dan Sugihan. Di tempat-tempat itu mereka istirahat dan bermalam. Di Lumut mereka dijamu oleh Aman bedus, di belang kejeren selama dua hari dijamu oleh Muhammad Dhin. Di Kutacane mereka melakukan konsulidasi, menerima dan mempelajari informasi serta menyusun taktik dan strategi menghadapi tentara Belanda di front Tanah karo.
Setelah enam hari berada di Kutacane, Bagura menuju pusat pejuang dibagian Barat Tanah Karo -Pemanting dan Sugihan-, dimana Bagura bergabung dengan kesatuan pejuang lainnya berkekuatan 300 personel yang dipimpin oleh Selamat Ginting. Atas usul Pang Jaring, maka pada tanggal 25 Juli 1949 dilakukan pengepungan asrama meliter Belanda di Mardinding. Sebelumnya koordinator Bagura memerintahkan pang Kilet dan Pang Sekunce untuk mengintai kekuatan dan keadaan tentara Belanda pukul 00.10. sekeliling asrama meliter Belanda itu dipasang kabel beraliran listrik. Dengan cara-cara tertentu yang dilakukan Pang Kilet dan Pang Sekunce, tentara Belanda yang bertugas jaga terlena, sementara yang lainnya tidur pulas. Kedua Pang tersebut melapor kepada koordinator Bagura yang berada 200 meter dari lokasi asrama tentara Belanda bersama pasukannya. Penyerbuan dilakukan dini hari dengan cencangan pedang dan tembakan senapang. Tentara lari ke kembangan.
Tanggal 26 Juli 1949, bagura menuju tiga binanga dan Kalibata. Tanggal 30 Juli 1949 pukul 08.00 nampak iringan-iringan pasukan tentara Belanda di Raja merahe, menggunakan 25 truck dan dua buah tank masing-masing didepan dan dibelakang pasukan. Kekuatan personel tentara Belanda diperkirakan 600 orang dengan persenjataan lengkap.
Koordinator Bagura memerintahkan anggota pasukan siap siaga dipematang dan relung-relung bukit bersemak lalang, menanti pasukan Belanda ditekongan patah jalan kutacane-kabanjahe. Beliau berada dipematang bukit bersemak, dari situ tampak jelas gerakan musuh. Aman Dimot, pang Alim Aman Aminah, Pang Ali Ketol, Pang Kilet, Pang Sekunce, Adam dan Ali Rema serta empat orang lainnya, siap siaga dilekuk bukit dengan tekongan jalan paling patah dengan senapang dan pedang. Ketika tank belanda paling depan berada ditekongan paling patah itu, koordinator Bagura memberi komando :“Serbu!” dengan teriakan diiringi tembakan. Pang Aman Dimot, Pang Ali dan 8 pejuang lainnya dengan cepat melompat menyerang dan naik keatas tank dan truck tentara Belanda, seraya meneriakkan “Allahu Akbar” dan mencencang lima tentara Belanda. Sementara yang lain menyerang dan membunuh tentara Belanda di truck-truck dibelakangnya dan yang sedang melompat dan tiarap diparit jalan.
Waktu menunjukkan pukul 11.00, koordinator Bagura memberi komando “Munduur!”, sebab anggota pasukan Bagura semakin lelah dan dari kejauhan nampak pasukan bala bantuan tentara Belanda dengan cepat menuju lokasi pertempuran. Pang Ali dan Pang Alim terjun kedalam jurang, anggota pasukan lainnya mundur secara teratur. Adam dan beberapa anggota lainnya gugur. Sementara Pang Aman Dimot sendiri terus melawan tentara Belanda, tidak menghiraukan perintah mundur.Koordinator bagura berteriak memanggil Aman Dimot dengan bahasa Gayo :” Abang aman Dimot, ulaaak !”. Aman Dimot menjawab : “Aku gere ulak” 7).
Aman Dimot bertambah lelah dan lemah. Beliau dikepung dan tangkap tentara Belanda, diseret dengan mobil Tank ke lapangan dan sebelumya Aman dimot digiling dengan mobil Tank lalu dimasukkan kedalam parit jalan. dan Tentara Belanda memasukkan dan meledakkan geranat dalam mulutnya.
Jasad Aman Dimot berserakan menaburi ibu Pertiwi tepat pukul 12.00.8) Perang berakhir dalam situasi penuh haru dan semangat mempertahankan Bangsa dan Negara. Aman Dimot, Adam (Unig Isaq), Ali (Penam paan) dan Adam (Rema) yang gugur ditengah-tengah gelimpangan mayat tentara Belanda, disemayamkan oleh penduduk di Rajamerahe. Kemudian Haji Sulaiman-yang baru menganut Islam-, memindahkan kerangka Syuhada’ itu ke Tiga binanga. Selanjutnya pemerintah daerah Tingkat II Karo memindahkannya ketaman makam Pahlawan kaban Jahe dalam kelompok Pahlawan tidak dikenal. 9)
20 hari kemudian, Kepala Staf Angkatan Perang Tentara Nasional Indonesia Sektor III/ Sub teritorial VII-Ulung Setepu-, dalam surat pernyataan turut berduka cita menyatakan, bahwa Aman Dimot telah bertempur dengan gagah berani melawan musuh-musuh kita di Rajamerahe (Tanah Karo-Sumatra Timur) dan telah gugur sebagi bunga melati dipangkuan Ibu Pertiwi Indonesia pada tanggal 30 bulan Juli 1949. 10)
Almarhum meniggalkan dua orang isteri : Semidah (Lahir 1910) dan Jani serta 4 anak : Syekh Ahmad Aman (1921), Ali Ahmad Aman Safiah (1924), Aisyah Inen Jura’(Lahir 1927) dan Muhammad Yunus Aman Ir (Lahir November 1948).
Untuk mengabadikan perjuangan pang Aman Dimot dan Pang Ali, Z. Kejoro dan Agussalim bersama teman-teman seperjuangan di kandibata, mengubah sebuah lagu “Pertempuran Sukaramai”, ketika dalam perjalanan kembali dari Front Tanah Karo.
———————————————-
7) Ulak (Gayo) artinya pulang. Aku gere ulak = saya tidak pulang.
8) Catatan Bagura 1949 dan wawancara Tgk. Ilyas Lebe di Banda Aceh, 10 Juni 1966.
9) Wawancara dengan tgk. H. Abd. Rahman Aly Gayo di Takengon, 20 Januari 1995.
10) Surat pernyataan NO. Sektor III/2/49/752, 20 Agustus 1949.
Masyarakat berkumpul di bioskop Gentala dan dijalan Lebe Kader dan Jalan Mahkamah Takengon, menanti dan menyambut kedatangan para pejuang dari medan perang, dengan penuh semangat dan kasih sayang. Senin 10 Agustus 1949, pukul 10.00, mereka tiba di Takengon dari Isaq. Masyarakat menyambut mereka dengan pekik “ Allahu Akbar” dan “Merdeka”. Para pejuang dirangkul dan sebagian digotong memasuki gedung Gentala.
Koordinator Bagura menyampaikan riwayat perjuangan di wilayah Kandibata, setelah Bupati Abd. Wahab atas nama pemerintah dan masyarakat menyambut mereka. Acara diakhiri dengan lagu bersama pasukan Bagura, diikuti oleh hadirin dengan penuh semangat dan cucuran air mata, sebab Aman Dimot dan beberapa pejuang lainnya telah tiada.
***
Siapapun tidak mampu menilai dan membalas keikhlasan perjuangan Pahlawan Aman Dimot dalam mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Rajamerahe Kandibata, selain do’a semoga Allah memasukkan Almarhum kedalam Sorga. 10 Januari 1952, Bupati Aceh Tengah pernah memberi bantuan kepada keluarga Almarhum Aman Dimot : 1 helai kain sarung, 12 yard kain kemeja. 3 batang sabun cuci, 2 buah sabun mandi, dan Rp. 100,-uang tunai. 11)
Dalam rangkaian peringatan memperingati Hari Pahlawan 10 November, Pemerintah Daerah Tingkat II Aceh Tengah, memberi bingkisan kepada keluarga Almarhum. Sejak 12 September 1978, telah diurus surat-surat untuk memperoleh tunjangan veteran RI bagi kelurga Aman Dimot. Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Tengah- H. M. Beni Bantacut, BA -, pernah menyampaikan nota kepada Kepala Kantor Veteran Aceh Tengah tahun 1980 dan memberi bantuan biaya pengurusannya, bahkan beberapa pimpinan masyarakat pernah menyumbang untuk itu, namun sampai sekarang surat pengakuan Veteran dimaksud belum ada!!
———————————————-
11) Surat Bupati Aceh Tengah, 10 Januari 1952.
Dalam temu ramah pimpinan Daerah Istimewa Aceh dengan para pejuang dan keluarga Pahlawan November 1994 di Mount Mata Banda Aceh, H. Abd. Rahman Aly Gayo memberi ceramah berjudul : “BAGURA DAN PANGLIMA AMAN DIMOT”. Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh – Prof. Dr. Syamsuddin Mahmud -, sangat tergugah terhadap perjuangan dan pengurbanan Aman Dimot. Beliau mengharap agar H. Abd. Rahman Aly Gayo menjiarahi dan mempelajari kemungkinan pemugaran makam pahlawan Aman Dimot.
Setelah berkonsultasi dengan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Tengah – Drs. Buchari Isaq – 6 januari 1995 di Takengon, H. Abd. Rahman aly Gayo bersama Ali Hasan dan Syekh Ahmad, menuju Kabanjahe . Mereka berkonsultasi dengan Asisten II Sekretaris Wilayah Daerah Tingakt II Karo – Drs. M. Nurdin Ginting -, sebelum menjiarahi makam Pahlawan Aman Dimot. 12)
Hasil konsultasi dan Ziarah itu, disampaikan kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Tengah dan Beberapa pemimpin Masyarakat di Takengon. Hasil konsultasi itu diteruskan kepada Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh 26 januari 1995, terdiri dari :
1. Memugar makam Pahlawan Aman Dimot dan 6 Pahlawan lainnya yang berasal dari Aceh Tengah di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe.
2. Membangun monumen Pahlawan tersebut di Takengon.
3. Menerbitkan buku sejarah perjuangan-perjuangan masyarakat Aceh Tengah merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.
4. Mengurus surat pengakuan dan bantuan Veteran bagi keluarga Pahlawan Aman Dimot.13)
Sementara itu, pada November 1994, PPM ( Pemuda Pancasila Marga ) aceh Tengah melakukan napak tilas “Aman Dimot”, menempuh route perjalanan Bagura menuju Tanoh Karo. Tujuannya agar generasi muda mampu menghayati dan meneladani perjuangan Aman Dimot.
————————————————
12) Wawancara dengan H. Abd. Rahman Aly Gayo, 20 Januari 1995 di Takengon.
13) Surat H. Abd. Rahman aly Gayo, 31 Januari 1995.
Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh berharap agar Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Tengah, dapat merumuskan bersama instansi terkait dan pemimpin masyarakat untuk memugar makam para Pahlawan Aman Dimot. 14)
Dalam rapat ke- II panitia hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-50 di Aceh Tengah, Senin 18 Mei 1995, dibicarakan pemugaran makam pahlawan Aman Dimot dan penulisan sejarah perjuangan masyarakat aceh Tengah dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan RI, sebagai salah satu program memperingati Kemerdekaan RI di Aceh Tengah.
Serangkaian dengan itu, Bupati Kepala daerah Tingkat II Aceh Tengah mengundang Ketua Legiun Veteran RI Cabang Aceh Tengah, Pasi MIN DIM 0106, Sekretaris Legiun Veteran Ri Kabupaten Aceh Tengah, Ali Hasan, Drs.H, Mahmud Ibrahim, Tgk. H. Mohd. Ali Djadun, Tgk. H. M. Ali Salwany dan M. Y. Sidang Temas pada hari Selas 23 Mei 1995 mulai pukul 09.00 WIB, untuk membicarakan pemugaran makam Panglima Aman Dimot diruang kerja Sekretaris Wilayah Daerah Tingkat II Aceh Tengah. 15)
Pertemuan tersebut tidak jadi dilaksanakan, karena Bupati Kepala Daerah, Drs. H. Mahmud Ibrahim dan tgk. H. M. Ali Salwany menghadiri temu ramah dengan Pangdam – I bukit Barisan di Lhokseumawe.
****
Bangsa yang besar dan terhormat adalah bangsa yang menghargai jasa dan menghayati perjuangan para Pahlawannya. Untuk itu perlu dikaji dan ditulis sejarah perjuangan masyarakat Aceh Tengah dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan RI. Membangun monumen sejarah, mengabadikan nama-nama Pahlawan sebagi nama bangunan dan nama jalan yang vital dan mengusahakan kesejahteraan keluarga para Pahlawan.
———————————————
14) Surat Gubernur No. 469/9954 tanggal 24 April 1995.
15) Surat undangan No. 005/1076 tanggal 18 Mei 1995.
Jalan raya semakin mulus. Cahaya bersinar dikota dan desa. Kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Namun masih banyak orang melupakan Tuhan dan Pahlawan. Peringatan 50 tahun Kemerdekaan republik Indonesia, hendaknya lebih mampu menggugah manusia Indonesia untuk lebih bersyukur kepada Allah dan lebih menghayati dan menghargai perjuangan dan jasa Pahlawan, guna menigkatkan pembangunan.
Tulisan sederhana ini, diakui belum lengkap dan sempurna. Ada diantara pelaku-pelaku sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Bangsa Indonesia, yang diberi Allah Kesempatan hidup. Tolong dicatat sejarah itu dan sempurnakan tulisan ini, agar kita tidak berdosa apabila generasi penerus tidak mengetaui dan menghayatinnya, disebabkan kita tidak mewariskannya berupa tulisan dan peringatan.
Terima kasih.
*********
Saat ini keluarga Pejuang Aman Dimot berharap kepada pemerintah NAD untuk kembali memperhatikan keluarga dari Aman Dimot yang di tinggalkan. Saat ini keluarga Aman Dimot seluruhnya berada di Kabupaten Bener Meriah Propinsi NAD. Alamat keluarga Panglima Aman Dimot, Jalan Syiah Utama No.13 Depan Kantor Camat Pondok Baru,Kecamatan Bandar,Kabupaten Bener Meriah,Peropensi Nanggeroe Darussalam
Dirilis oleh Cicit Aman Dimot (Ruhdi )

cut nyak dien di mata penyair

6 Nopember 1908, 101 tahun lalu, Cut Nyak Dhien yang paling ditakuti penjajah Belanda berpulang ke Rahmatullah di negeri pengasingan yang nan jauh dari Aceh saat itu, Sumedang Jawa Barat.
Seseorang yang pernah sangat dekat dengan pemilik julukan “Ibu Perdu” ini, dalam perannya sebagai Panyair dalam film dokumenter bertajuk Cut Nyak Dhien, Ibrahim Kadir sang Penyair, putra Gayo yang lahir dan besar di Takengon merasakan layaknya ikut berperang dengan penuh heroik membela agama dan kehormatan jengkal demi jengkal tanah Aceh melawan Belanda kafir bersama Cut Nyak Dhien. Penyair, adalah nafas sebuah perjuangan rakyat Aceh. Ibrahim Kadir sangat bangga dan beruntung pernah menjadi orang kepercayaan Cut Nyak Dhien walau hanya dalam sebuah episode film.
Sangat beruntung, Ibrahim Kadir sang Penyair ternyata tidak begitu sulit di cari. Mengisi hari-hari tuanya, sang penyair dipercayakan menjadi tampuk pimpinan pembangunan Masjid Babussalam Kemili kabupaten Aceh Tengah. setiap waktu shalat wajib tiba, dipastikan Ibrahim ada bersama jama’ah masjid tersebut.
Assalamu’alaikum, ucap kami kepada seorang lelaki tua berpakaian biru dengan peci hitam dikepala yang duduk sendiri di teras Masjid Babussalam Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Aceh Tengah, Kamis (5/11) sore. “Wa’alaikum salam, waktu belum masuk waktu ashar, kalau belum wudhu’ silahkan disebelah sana tempatnya,” jawab lelaki tersebut ramah.
“Iya Ama, sebenarnya kami ingin ngobrol dengan Ama,” kata teman yang bersama saya, Munawardi, seorang pemerhati sejarah Gayo di Aceh Tengah. Ama, bahasa Gayo yang berarti bapak.
Pria pemegang peran Penyair dalam film Cut Nyak Dhien yang diproduksi tahun 1988 dan menjadi film terbaik di piala Citra, ajang penjurian perfilman nasional di tahun yang sama. Film yang disutradarai Eros Djarot tersebut juga menjadi film pertama Indonesia yang ditayang di festival film Chanes Prancis tahun 1989.
Diawali dengan perkenalan dan menguatarkan maksud pertemuan, sesaat kemudian kami hanya mendengar penuturan seniman gaek ini. Dari cara bercerita, Ibrahim Kadir tampak sangat menjiwai perannya dan masih sangat ingat semua yang dialami saat melakoni Penyair dalam film bergengsi tersebut.
Tanggal 6 Nopember, apakah bapak ingat sesuatu ? sesaat pria tersebut tercenung seperti mengingat-ingat sesuatu.
“Aduh, saya ingat. Besok 6 Nopember adalah hari wafatnya Cut Nyak Dhien,” jawab Ibrahim Kadir dengan wajah yang tiba-tiba cerah bersemangat. “Saya sang penyair yang mengumandangkan Allahu Akbar dan menyanyikan Hikayat Prang Sabi untuk membakar semangat pejuang Aceh untuk melawan Ulanda Kape. Saya pernah bertengkar dengan Pang Laot. Saya katakan kepada dia “Hei Panglima Laot!, Dengan senjatamu kamu tidak akan bisa usir Kafir Belanda dari Aceh. Tapi dengan syair-syairku kafir-kafir itu akan tunggang langgang hengkang dari Aceh.”
Apa tugas dan fungsi Penyair dalam perang Aceh ?
Para Panglima boleh mati, akan tetapi penyair tak kan pernah mati. Saat Cut Nya’ Dhien dan para pejuang kelihatan lemah dan turun semangat, serta merta penyair hadir untuk kumandang Azan dan mengaji, dendangkan hikayat Perang Sabi dan pekikkan Allahu Akbar. Ketauhidan para pejuang dan rakyat Aceh yang membuat Kafir Belanda tidak bisa menaklukkan Aceh.
Lalu apa syair yang paling berkesan bagi Bapak ?
Cut Nyak Dhien pernah bertanya kepada saya. Penyair, apa syair yang paling indah ?, saya menjawab Allahu Akbar. Itulah syair yang terbaik di jagat raya ini.
Bagaimana Bapak melihat sosok Cut Nyak Dhien ?
Walau perempuan, Cut Nyak Dhien sangat kuat dan siap berperang lahir dan bathin karena dia adalah sosok yang bersih, imannya kuat. Belanda bisa kuasai raganya akan tetapi takkan pernah kuasai ketauhidan Cut Nyak Dhien serta seluruh rakyat Aceh.
Bagaimana perasaan Bapak saat ikut ambil peran dalam film Cut Nyak Dhien ?
Wah…sangat istimewa, saya seperti berada dalam kejadian sesungguhnya, apalagi saat film tersebut sudah jadi dan diputarkan. Tak terkatakan perasaan saya saat melihat acting saya dalam film tersebut. Saya tak percaya bahwa itu saya.
Bagaimana bisa terpilih sebagai actor ?
Aneh bin ajaib, suatu mu’jizat dalam hidup saya. Saya bertemu Eros Djarot dan kawan-kawan di Hotel Renggali Danau Laut Tawar Aceh Tengah. Saat itu, saya sebagai pelatih Didong yang dipertunjukkan kepada para insan film nasional tersebut. Sebelumnya saya tak kenal Eros Djarot, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Pietrajaya Burnama dan lain-lain. Eros menanyai saya, kita mau buat film Cut Nyak Dhien dan sedang cari pemain untuk Penyair. Apakah bapak bersedia datang ke Sigli ikut di tes dengan peran Penyair ?. Saya menjawab seadanya, bersedia.
Kira-kira satu bulan kemudian, Sekda Aceh Tengah yang dijabat M. Syarif menghubungi saya untuk ikuti tes di Sigli. Kepada Sekda tersebut saya jawab, saya tidak usah ikut, dan tak mungkin lulus. Saya juga tidak punya uang untuk ongkos. Sekda tetap memaksa saya, lalu saya diberi uang, cukup untuk ongkos PP dan makan satu hari. Kalo tidak lulus, harus langsung pulang ke Takengon.
Saya kemudian berangkat seadanya tanpa bawa perlengkapan pakaian. Saya hanya penuhi permintaan Sekda untuk ikut. Tiba di Sigli persis pukul 5 sore. Saya kaget, ternyata Eros Djarot, Slamet rahardjo, Christine Hakim, Pietrajaya Burnama. LK Ara juga sebagai peserta dan puluhan peserta lainnya sudah ada disana. Sesaat kemudian Eros Djarot langsung menuyuruh baca naskah film. Sebentar, sekitar 5 menit dan langsung di tes. Keinginan saya hanya ingin proses tersebut segera berlalu dan langsung pulang ke Takengon. Saya tak baca naskah tersebut dengan baik dengan alasan sebagai orang Aceh sudah faham sejarah Aceh.
Lalu apa yang ditanya Eros Djarot ?
Sebagai rakyat Aceh, bagaimana sikap rakyat Aceh saat melawan Belanda. Saya jawab, ini film Aceh bukan film Jawa, tentu tidak sama. Kalau orang Jawa menyapa tamu, singgah Mas, mau kopi ? silahkan diminum, dan lain-lain. Intinya, Jawa sangat ramah dan lemah lembut. Dan karena sikap seperti itu Jawa bisa dijajah hingga 350 tahun.
Nah kalau di Aceh, orang asing yang datang akan ditanya, so nyoe !, dari pane ?, na Assalamu’alaikum ? Han. Cang laju. Karena orang Aceh seperti itu maka Belanda tak berkutik di Aceh.
Eros kelihatan kaget, dan bertanya kepada rekan-rekannya. Nah, anda lihat, anda lihat. Itu orangnya.
Saya bingung, kenapa dan ada apa dengan saya . Eros kemudian katakan “selesai”. Saya betul-betul bingung saat itu. Apalagi setelah Eros katakan hasil testing diumumkan di Anjungan Mon Mata Banda Aceh. Saya tidak punya uang dan hanya bawa pakaian di badan.
Tak hilang akal, saya melobi LK Ara, jika saya tidak lulus maka LK Ara beri ongkos pulang ke Takengon. LK Ara setuju. Dan jadilah saya ke Banda Aceh.
Setibanya di Anjungan Mon Mata, saya tidak percaya diri untuk masuk. Saya bersama rekan seniman asal Gayo di Banda Aceh, Mursalan Ardy mengobrol saja diluar gedung. Saya tidak tahu jika seluruh pembesar dan tokoh-tokoh Aceh sudah berada di dalam Anjungan. Dari Ahli Adat, Gubernur Ibrahim Hasan, Kapolda Aceh Abullah Moeda, petinggi meliter, para rektor perguruan tinggi dan lain-lain.
Saya sama sekali tidak ikuti prosesi acara tersebut, termasuk saat Eros berpidato dan melaporkan hasil tes actor kepada para undangan yang hadir. “Semua pemeran untuk film Cut Nyak Dhien sudah lengkap. Untuk peran Teuku Umar, Slamet Raharjo, Cut Nyak Dhien oleh Christine Hakim, Pang Laot Pietrajaya Burnama, sebagai Nyak Bantu Rita Zahara. Untuk pemeran Penyair yang menembangkan Hikayat Perang Sabi membangunkan semangat perang rakyat Aceh sudah didapat, yakni dari “Jantungnya Aceh, Tanah Gayo” yakni Ibrahim Kadir.
Para pemeran terpilih dipersilahkan maju ke depan para undangan. Lalu, saat nama saya dipanggil, saya tidak dengar karena saya berada diluar. Sampai seseorang berteriak berulang-ulang, mana Ibrahim Kadir. Saya menjawab, hadir, ada apa ?. Orang itu meyuruh saya masuk. Akan tetapi malah saya spontan jawab, untuk apa ?.
Rekan saya, Mursalan menegur, tidak baik bersikap seperti itu, ayo masuk, ajak Mursalan. Saat berada di pintu Anjungan, Eros menunjuk, itu Ibrahim Kadir, kamu lulus. Saya bingung dan spontan menjawab, Lulus Apa ?.
Kemudian saya minta pengumunan diulang. Belum lagi selesai Eros mengulang pengumunan, Gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan mendatangi saya yang masih tetap berdiri di depan pintu. “Ibrahim dari Gayo Aceh Tengah, ke depan kamu,” kata Ibrahim Hasan.
Di depan, saya kemudian dipeluk Ibrahim Hasan sambil berpesan, Bawa nama Aceh, kamu salah satu yang lulus jadi pemeran penting dalam film Cut Nyak Dhien, yakni sebagai Penyair. Gubenur kemudian menyelipkan Rencong Emas ke pinggang saya. Saya menangis terharu. Ibu Gubenur juga ikut-ikutan beri amanah, sebagai putra Aceh saya harus bawa nama Aceh.
Lalu bagaimana dengan rival-rival bapak ?
Hehehe., yang lucu sahabat saya, LK Ara yang mengaku sudah tiga bulan menyiapkan diri untuk terpilih sebagai pemeran Penyair akan tetapi tidak lulus. LK Ara ucapkan selamat kepada saya, tapi sambil berkata, ongkos pulang ke Takengon yang dijanjikan dibatalkan. Saat itu, diantara tangis kami tertawa terbahak-bahak.
Jadi untuk pemeran yang termasuk utama hanya bapak yang dari Aceh ?
Kalau melalui tes resmi iya, tapi ada seorang anak yang berperan sebagai Agam, pemerannya Kamaruzzaman asal Sigli dan sekarang bekerja di Jakarta. Khusus untuk cerita anak ini, saya bingung, sebenarnya anak siapa dia ?, benarkan keponakan Cut Nyak Dhien ?.
Perkiraan saya, anak tersebut adalah anak korban syahid kekejaman Belanda di Tenge Besi Kabupaten Bener Meriah sekarang. Dari tiga orang yang dibuang Belanda ke Sumedang, anak itu adalah salah satunya. Anehnya, tidak adanya catatan sejarah kemana anak itu pergi setelah Cut Nyak Dhien wafat di Sumedang.
Pembicaraan kemudian berakhir seiring dikumdangkannya Azan pertanda waktu Ashar sudah tiba.

Tengku Ibrahim Aman Samsir, Penemu Kopi Ateng Jaluk

Oleh: Win Ruhdi Bathin dan Khalisuddin
Tidak ada yang tidak mengenal nama Tengku Ibrahim Aman Samsir. Penduduk Jaluk Kecamatan Ketol yang kini berusia 89 tahun. Namanya pernah dibicarakan petani kopi Takengon dan Bener Meriah yang berjmulah ratusan ribu orang.
Bahkan rumah dan kebun Tengku Ibrahim yang terletak di Jaluk setiap hari ramai dikunjungi petani dari antero Takengon dan Bener Meriah mencari bibit kopi Ateng yang sudah berbuah di usia 1 tahun dengan tinggi batang kurang dari satu meter.
Kopi Ateng Jaluk bahkan dibawa ke , Jawa, Sumatera , Kalimantan hingga ke Belgia. Itulah sepenggal kisah tenarnya Tengku Ibrahim Aman Samsir, lelaki berperawakan kecil, berkulit gelap dan murah senyum.Orang yang pertama sekali menemukan sebuah varitas kopi yang berbuah di usia satu tahun dengan jumlah buah yang melimpah dan batangnya pendek. Kopi ini kemudian diberi nama Ateng Jaluk, dari jenis Arabika atau Catimor Jaluk. Sejak tahun 1980 hingga kini.
Tidak sulit mencari Tengku Ibrahim Aman Samsir di Kampung Jaluk. Dia sudah sepuh (tua). Badannya kurus. Tapi ingatannya masih kuat. Nada bicaranya jelas dan suka melucu.Saat tertawa, matanya mengecil , hidungnya tampak semakin mancung, gusinya terlihat kosong, sepeti gusi bayi. Giginya sudah tanggal .
Kerut-kerut diwajahnya tergambar jelas. Rahangnya menonjol .Tampak dia seorang pekerja keras. Kulitnya legam dibakar matahari. Tapi senyum dan tawanya lepas tanpa beban.
Walau kulitnya hitam, tampak bersih dan meneduhkan. Dari kalimatnya, tampak sekali Tengku Ibrahim dekat dengan Sang Khaliq. Saat saya dan Khalisuddin menjambangi rumah sederhananya, Minggu (8/11). Rumahnya terbuat dari papan seperti rumah petani kebanyakan yang sangat sederhana. Berukuran sekitar lima kali sepuluh meter.
Tidak ada peralatan mewah, kecuali sebuah kenderaan roda dua yang sudah tua mereka Honda. Di ruang tamu tampak sebuah tempat tidur tanpa kasur. Kami duduk di sofa tua. Tengku Ibrahim ditemani seorang dari 15 cucunya bernama Yusuf berusia sekitar enam tahun yang menggantungkan ketapel di lehernya.
Setelah membalas salam dan bersalaman. Kami memperkenalkan diri. Tengku Ibrahim Aman Samsir mengenakan selop Setelah membalas salam dan bersalaman. Kami memperkenalkan diri. Tengku Ibrahim Aman Samsir mengenakan selop merek Lily, sandal pavorit orang tua. Berwarna biru. Berbahan plastic dengan dua tali.
Bajunya, baju koko yang dilipat hingga dibawah siku dan memakai sarung. Di kepalanya sebuah kopiah berwarna hitam berbahan beludru tampak tak lekang meski sudah tampak lusuh.
Sambil mengeluarkan plastic putih ukuran satu ons dari kantungnya yang berisi tembakau dan daun nipah, Tengku Ibrahim Aman Samsir, memulai kisah penemuan kopi Ateng Jaluk yang telah mengantarkan puluhan atau bahkan ratusan petani kopi ke Mekah menunaikan rukun Islam kelima.Tapi Tengku Ibrahim Aman Samsir belum haji, meski sangat memimpikannya.
Menurut Tengku Ibrahim Aman Samsir, penemuan varitas kopi Ateng Jaluk terjadi secara tidak sengaja. Di tahun 1980, Dinas Perkebunan membuat pembibitan kopi Tim-tim di Simpang Juli Angkup.
“Pak Wahab, pegawai Dinas Perkebunan membagikan bibit kopi Tim-tim kepada petani di Jaluk. Jumlahnya 2000 batang untuk satu hektar. Sebelum bibit Tim-tim dibagikan, petani sudah menanami kebunnya dengan kopi arabika yang berasal dari Burni Bius dan Belang Gele”, ujar Tengku Ibrahim Aman Samsir seraya menarik asap rokoknya dalam-dalam.
Saat mengisap rokok, pipinya tampak peot dan tulang rahangnya semakin menonjol. Setelah kopi yang dibagikan Disbun berumur dua tahun, disalah satu bagian kebunnya yang tidak jauh dari rumahnya di pinggir jalan Buntul Jaluk, Tengku Ibrahim melihat sebuah batang kopi yang berbeda dengan kopi lainnya.
“Batangnya pendek, sudah berbuah. Dengan jumlah buah yang banyak dan rapat setiap tungkunya. Seperti buah kopi Robusta”, kata Tengku Ibrahim Aman Samsir. Karena merasa kopi tersebut luar biasa dan berbeda dengan varitas kopi yang telah ada selama ini dimana usia tiga tahun kopi baru berbuah, Tengku Ibrahim Aman Samsir coba mengambil buah kopi yang masak.
“Awalnya saya kira buahnya yang masak tidak berbiji. Tapi ternyata bijinya normal seperti kopi lainnya”, papar Bapak dari Samsir, Narmi, Gazali, Zamli dan M Jamil ini.Tengku Ibrahim Aman Samsir .
Tengku Ibrahim Aman Samsir masih merahasiakan penemuan kopi yang dianggapnya unggul tersebut. Setelah memetik buah kopi yang masak. Suami dari Aisyah yang kini sudah wafat ini, coba menyemainya langsung didekat kopi Ateng yang pertama sekali ditemukannya itu.
“Biji kopi Ateng yang saya semai itu tumbuh normal namun habis diseruduk babi yang mencari cacing disana. Saat itu saya berada di Ketol menunggui buah durian yang sedang berbuah”, sebut Tengku Ibrahim Aman Samsir.
Tidak putus asa, Tengku Ibrahim Aman Samsir kembali menyemai buah kopi dari batang kopi Ateng yang saat itu masih sebatang saja. Setelah bibit kopi tumbuh, mulailah warga sekitar Kampung Buntul Jaluk meminta bibit kopi yang dianggap luar biasa tersebut.
“Ada yang hanya minta dua bibit, lima batang bibit hingga seratus batang. Di tahun 1987, informasi tentang kopi Ateng Jaluk sudah tersebar luas”, papar Tengku Ibrahim Aman Samsir.
“Nama kopi Ateng diberikan warga yang datang meminta bibit. Karena masih kecil sudah berbuah, orang menyebutnya Kopi Ateng Jaluk”, kenang Ibrahim Aman Samsir tentang nama “Kopi Ateng Jaluk” yang kemudian menjadi nama yang dipakai untuk kopi ini hingga saat ini.
Ditahun 1988, hampir semua pekebun kopi Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah menanam kopi Ateng Jaluk. Ada kisah menarik yang diceritakan Ibrahim Aman Samsir. Seorang warga yang telah meminta bibit kopi Ateng mengadu kepada Ibrahim Aman Samsir. Benih kopi Ateng Jaluk yang disemai di bedengan di kebun warga tersebut, hilang dicuri orang.
Dengan kemurahan hatinya, Tengku Ibrahim Aman Samsir mengganti bibit warga yang dicuri orang tersebut seraya berkata, “ yang dicuri orang itu punya saya. Ini saya berikan gantinya”, kata Tengku Ibrahim Aman Sasir sambil tertawa lepas.
Warga atau petani yang terus mendatangi rumah dan kebunnya untuk mencari bibit kopi Ateng Jaluk kala itu menghargai sendiri bibit kopi Ateng yang dimiliki Tengku Ibrahi Aman Samsir dalam bentuk biji.
“Warga sendiri yang menghargai perbambu kopi Ateng untuk bibit Rp.25 ribu. Saya tidak pernah mematok harganya. Terserah keikhlasan. Banyak juga yang tidak memiliki uang tapi bibit kopi tetap saya berikan”, ujar Tengku Ibrahim Aman Samsir.
Dalam kesederhanaanya, Tengku Ibrahim Aman Samsir tidak lantas lupa diri. Dia biasa saja. Perubahan ekonomi secara drastic tidak tampak pada Tengku Ibrahim Aman Samsir. Kebanyakan kopi Ateng Jaluk yang ditemukan dan dikembangkannya , kebanyakan memang diminta petani sepertinya tanpa patokan harga atau jual beli.
Seiring perjalanan waktu dan perkembangan penyebaran kopi Ateng Jaluk diantero Datarn Tinggi Gayo, Takengon, Bener Meriah dan Gayo Lues, tetangga Tengku Ibrahim Aman Samsir kerap bercerita kepadanya yang menceritakan kopi Ateng Jaluk temuan Tengku Ibrahim Aman Samsir yang dinilai sangat membantu petani karena setahun sudah panen.
‘Ada warga atau petani yang mengucapkan rasa terima kasihnya kepada saya dan berpamitan naik haji dari kebun kopi Ateng yang mereka tanam.”Allah yang mengembangkannya. Tidak bisa kita batasi”, sebut Tengku Ibrahim Aman Samsir sambil tersenyum lepas.
Dijelaskan Tengku Ibrahim Aman Samsir, berdasarkan pengalamannya menanam kopi Ateng, kopi Ateng sebaiknya ditanam tidak lebih dari 10 tahun saja. Dengan jarak tanam 1 X 1 meter. Kemudian diganti lagi dengan tanaman baru. “Jika lebih dari 10 tahun, buahnya tetap banyak namun lebih kecil bijinya”, papar Tengku Ibrahim Aman Samsir.
Karena berusia setahun sudah panen, menurut Tengku Ibrahim Aman Samsir, banyak petani kopi yang mampu membayar hutang dengan menanam Kopi Ateng Jaluk.Umumnya kopi ini ditanam di bukaan lahan kopi yang baru ditebang (hutan) atau dibekas hutan yang sudah ditebang lama yang sudah ditumbuhi rumput atau ilalang (tamas mude).
Jika selama ini berbagai varitas kopi yang ditanam petani umumnya baru mulai berbuah setelah ditanam tiga tahun. Hadirnya kopi Ateng Jaluk yang tumbuh ditanah kebun Tengku Ibrahim Aman Samsir yang kemudian diperbanyak dan disebarnya, telah membuat petani dapat menghasilkan uang dari kopi tidak lebih dari setahun.
Jauh hari sebelum Tengku Ibrahim menemukan kopi Ateng Jaluk. Suatu ketika saat berada di kebun kopinya yang sebagian ditanam kopi Robusta sedang berbuah lebat. Tengku Ibrahim melihat buah kopi Robusta yang tiap ruasnya dipenuhi puluhan buah kopi dengan jarak tungku yang rapat.
“Ah , seandainya ada kopi arabika yang berbuah seperti kopi robusta, petani pasti lebih sejahtera” guman Tengku Ibrahi seolah berbicara pada dirinya sendiri seraya mengamati kopi Robusta.
“Tidak lama kemudian apa yang saya pikirkan diijabah Allah”, ungkap Tengku Ibrahim Aman Samsir. Meski berhasil mengembangkan kopi catimor Ateng Jaluk, Tengku Ibrahim Aman Samsir yang kini berusia 89 tahun, terlihat low profile dan sederhana sekali, seperti kebanyakan petani kopi yang masih miskin.
Atas semua usaha itu, Pemda pernah memberinya uang Rp.4 juta dan sebuah piagam penghargaan yang dikeluarkan Kepala Dinas Perkebunan. Itu saja , tidak lebih. Lelaki sepuh yang pernah menjadi tentara DI (Daru Islam) ini masih menyimpan obsesi menunaikan haji, rukun Islam kelima.
Tengku Ibrahim Aman Samsir mengantar kami ke batang kopi Ateng Jaluk pertama tumbuh di kebunnya , tidak jauh dari rumahnya. Persis di samping Mesjid Baitul Hikmah. Pohon Ateng Jaluk pertama tumbuh ini masih menghasilkan meski telah berusia 29 tahun. Kopi ini sudah ditumbuhi lumut.
Dan Tengku Ibrahim Aman Samsir masih menyimpan mimpi naik Haji. Adakah dermawan Aceh yang bisa mewujudkan mimpi petani pedalaman Aceh Tengah di Kampung Buntul Jaluk itu?, waktu jua yang menjawabnya. (win dan khalis)

kekeberen/cerita

You are currently browsing the category archive for the ‘Kekeberen (Cerita Rakyat)’ category.
Oleh Yusradi Usman al-Gayoni *
‘Kekeberen’ adalah satu dari sepuluh sastra lisan yang ada di tanoh Gayo. Kata dasar kekeberen ini adalah ‘keber,’ yang dalam bahasa Indonesia berarti kabar, berita, atau kisah. Kekeberen merupakan penggambaran, pengabaran, dan pengisahan. Singkatnya, kekeberen menceritakan kisah terdahulu, atau rangkaiain cerita kekinian yang dikemas dalam bentuk cerita dengan berbagai bentuk, muatan, dan simbol yang dirangkainya. Muatannya dapat berupa cerita-cerita Islam, misalnya saja sejarah Islam, cerita nabi, sahabat, dan lain-lain. Dapat pula menggambarkan kearifan-kearifan lokal yang dimiliki suku ini. Selain itu, bermuatkan sejarah, misalnya saja tentang sejarah etnik Gayo, kerajaan Linge, kerajaan Isaq, kerajaan Bukit, kerajaan Cik, kerajaan Syiah Utama, dan cerita sejarah lainnya. Juga, topik lain yang tak terlepas dari kehidupan sosial masyarakat Gayo. Intinya, kekeberen mengajarkan pengajaran moral kepada pendengarnya, yang umumnya anak-anak. Dengan demikian, mereka dapat mengambil hikmah dari kekeberen, sehingga dapat menyikapi hidup dengan lebih bijak, baik, dan terarah.
Biasanya, orang tua, terutama nenek-nenek mengisahkan kekeberen ini kepada anak, atau cucunya sebelum mereka tidur. Bentuk, dan muatan ceritanya beragam seperti yang di sampaikan di atas. Namun, apa yang terjadi dengan kondisi kekeberen di tanoh Gayo saat ini? Kekeberen dapat dikatakan sudah hilang dari masyarakat Gayo. Kalau pun ada, pelaku dan pendengarnya terbatas. Kemungkinan, ada di kampung yang tidak tersentuh nilai-nilai modern. Itu juga jarang. Dari kebertahanannya, penulis melihat, kekeberen ini bertahan sampai tahun 1990. Sementara itu, tahun 1990 sampai 2000, kekeberen, semakin kurang dipraktekan. Sekarang, kekeberen sudah digantikan televisi. Orang tua, terlebih anak-anak lebih memilih menonton televisi. Mereka (anak-anak) disibukkan pula dengan tumpukan tugas mereka dari sekolah. Sebagai akibatnya, anak-anak lelah dengan aktivitas seharian, dengan sisa energi yang ada, mereka langsung tidur (tertidur)
Selain akibat teknologi, pelakon kekeberen juga mulai berkurang; sudah memasuki usia senja, dan tinggal hitungan jari. Dalam kaitan tersebut, orang tua yang sekarang memiliki kemampuan yang terbatas terkait kekeberen. Sebaliknya, ceritanya tidak lagi mengangkat nilai-nilai religiusitas, moral, etika, dan kearifan lokal, tapi kisah dari televisi yang ditonton sama-sama, yang kurang mengandung nilai-nilai edukasi. Karena tidak berlangsungnya transmisi budaya, kekurangingintahuan, kekurangmampuan, dan kekurangkreativan. Sudah bisa dipastikan, transmisi budaya terputus antara generasi tua dan generasi muda di tanoh Gayo. Akibatnya, generasi muda, terutama yang lahir, tahun 1980-an sampai sekarang, tidak tahu menahu terkait sejarah, sastra lisan yang kekeberen salah satunya, adat istiadat, norma, ‘resam,’ peraturen, dan kebudayaan tempatan.
Hal inilah yang menjadi persoalan yang memprihantikan di Gayo sekarang; terputusnya transmisi budaya dari yang tua ke yang muda. Orang tua kurang mengajarkan anak-anak-nya kebudayaan tempatan. Ditambah lagi, anak-anak juga enggan mempelajari budaya leluhurnya karena tidak adanya motivasi, arahan, dan tidak terbentuknya lingkungan ke arah dimaksud. Salah satu asumsi yang salah dari orang tua selama ini, adalah anggapan bahwa anak-anak akan mendapatkan pengalaman langsung (empiris) dari interaksi budaya sehari-hari dari lingkungan sekitarnya. Pengajaran budaya tidak perlu diajarkan baik secara formal, maupun secara informal. Selain itu, terjadinya ‘dominasi’ tokoh tua (‘senioritas budaya’), yang muda kurang diikutsertakan. Sebagai akibatnya, putusnya transmisi budaya tidak bisa dielakkan. Karena adanya rentang pengetahuan kebudayaan, dan pengalaman yang cukup jauh antara yang ‘tua’ dan yang ‘muda.’ Generasi muda Gayo sekarang merasa ‘kabur’ dalam melihat realitas budayanya, terutama soal kekeberen.
Ditambah lagi, soal miskinnya pendokumentasian yang bertalian dengan Gayo, terlebih lagi soal kekeberen tadi. Transmisi budaya terbatas hanya lisan, yang frekuensinya sangat terbatas. Belum lagi kurangnya tradisi menulis, yang mau menulis, terutama dari generasi ‘orang tua.’ Hal tersebut, tentu, semakin menambah peliknya persoalan ini. Sebetulnya, sudah ada dokumentasi tertulis prihal kekeberen, walau jumlahnya terbatas. Namun, dokumentasi tersebut tidak ada di Takengon sebagai sumber kekeberen tadi. Sebaliknya, kekeberen tadi ada di luar Aceh, terutama di Medan, Jakarta, dan umumnya pulau Jawa. Lebih disayangkan lagi, pemerintah kabupaten kurang menggali, memelihara, memertahankan, dan mendokumentasikan sejarah yang dimiliki suku ini, khususnya persoalan kekeberen. Pemerintah kabupaten kurang menghargai aset sejarah, dan budaya yang terwaris. Mereka (pemerintah kabupaten) lebih mengedepakan pembangun fisik, yang tak jarang berujung pada kerusakan ekosistem, dan semakin mengerdilkan kearifan-kearifan lokal yang ada. Singkatnya, pembangunan yang ada berbuah pada ‘kerusakan yang berkelanjutan.’
Padahal, kekeberen, dan sembilan sastra lisan Gayo lainnya berpotensi menjadi sarana pemertahanan bahasa Gayo. Kekeberen salah satunya, membuka ruang bagi hidup, berkembang, dan dipakainya bahasa Gayo. Dikarenakan, berdasar kajian ekolinguistik (ecolinguistics), atau ekologi bahasa, bahasa perlu lingkungan untuk hidup. Perlu lingkungan yang merumahi bahasa. Peran itulah yang dimainkan kekeberen, yang mengemban misi kebudayaan, yaitu dengan penggunaan ragam dan register khusus yang mereflesikan kehidupan religius, sosio-kultural, dan ekologis masyarakat Gayo.
Untuk itu, upaya-upaya penyelematan, terutama standarisasi bahasa Gayo (pembakuan), dan pendokumentasian hal-hal yang terkait dengan Gayo, terutama kekeberen tadi perlu dengan segera, sungguh-sungguh, terencana, terukur, dan maksimal dilakukan, terlebih lagi pemkab Aceh Tengah melalui dinas terkait. Kalau tidak, kekeberen yang hakikatnya berupa pengabaran, pengisahan, atau penceritaan kehidupan masyarakat Gayo akan berujung, dan menjadi kekeberen.
* Pemerhati Kebudayaan Gayo/Mahasiswa Program Magister Linguistik Universitas Sumatera Utara. Saat ini (15-22 Agustuss 2009), sedang meniliti ekolinguistik (ekologi bahasa) di Takengon.
Oleh A.R. Hakim
Dele jema berpendepet, mumerinen apabile bur mubeltak mekesute lagu Bur Ni Telong so ke basa Indonesiae gunung merapi, mubeltak sara waktu tangkuh ari wan bur a, wih, rara, tanoh cempege, ledak, atu bene sana si ara wan tuke ni bur a tangkuh lagu jema peloahan. Bekase si taring nge mujadi keltung renyel wih pe mugenang, pemarine mujadi lut, lagu lut Tawar-te ni. Danau basa Indonesiae. Ike sinting beta asal usul ni lut atawa danai bewe ne, keta nge trang sengkiren Bur Ni Telong so mubeltak, meletus nge turah lo ari pe lut atawa danau. Buge entimi bur a mubeltak kuneh lo ari pe, ata meh mureh muremok lengas mujadi rata kase. Senuen, manuksie, koro, kude, kaming, bebiri, ume a bene rusak gere ne tehunei. Syukur ike gere sampe ku nyawa.
Keta kekeberan ni jema tetue tentang asal usul ni Danau Laut Tawar-te ni, cube keta ipengen, kadang te kase nguk gunei kin isi nate kin pengemasan, orop cerak-cerak berakah.
Pudaha, silun, sedenge beta kire-kire, ara sara jema ulama, jema malim ke kene pakea pudaha oyale si ulie. Si ulie ni si gatine keta beribedet i Mekkah, si nge terang tentu ike semiang Jemat. Nge mari muniri-niri renyelwe berangkat ku Mekkah. Ke bukeneh pe jarake, sejep we nge minter sawah, keta mari semiang kase ulakwe mien ku Gayo ni. Sana i genie, gere kubetih, gere ara seder jema kadang te begene burak lagu nabi mekraj, mi kadang ta betul pe, kadang te temerbang, oya pe gere ara seder jema, si mehate remalan we si ara mukeber.
Si ulie ni ne bedene kul, atas, anyong, langkahe pe pepien meteri, seger jangkang pe kadang te nge orap si pe, kekirentemi we munyawahne. Gere sidah pe atas ni bur si teridah kite engon ni, relem narul, kolak ni lut, nguk perin nise gere ara nyanya. Gere ara perasante si nguk mulintang langkahe ke kusih pe we male beluh. Betale kire-kire kul ni bedene, kolak ni jangkange, angong ni tubuhe buh jeme persine Unok.
Se ni pe kin pengalut ni jema ke ara jema bi bejangkang kolak, kul bedene, keta renyel rasi jema, kul ni beden pe lagu Unok, beta kedah.
Jadi ike munurut kekeber ni jema jemen, Danau Laut Tawar-te nipudaha gerele lagu besilo ni koleke, kucak we, lagu kulem. Wihe mujelobok mumata ter ari tuyuh, jernih pedi, sonele dirodari muneniri bersesangulen sesabi dirie, mari-mari niri ho ulak mien ku langit. Kene jema petere Bensu pe, yonele muniri, bepangir urum aka-akae I sagi-sagi ni karang so Malim Dewa munenep sesire beserune muguel bensi, mungantehi pateri Bensu. Nge mari muniri, keta ulak temerbang mien ku nenggeri Antara, beta kene jema.
I geniring ni kulem a ne ara sara batang ni kayu kul pedi. Ton ni benatang-benatang uten a belongoh porak le so, begegolahan kadang te gerahan keta minum ku wan kulem a. Manuk pe beta mumangani uah ni kayu a ne, gerahan-gerahan so keta ne renye minum kone. Batang kayu len pe dele ilen one ara seba mi, ara si muah ara si gere tempat ni manuk berdediang terbang ari ranting ku cabang memangani uah, mungenali iyok kin isi ni pogenge.
Jadi pede serlo ter bilangan si jeroh ketika si bise, turun ilham ku Unok ni ne bahwa kase sara masa male terjadi turun ni Tuhen cubeen ku makhluk atan denie ni munuji sahan-sahan si berimen, sahan si gere. Si berimen keta selamat kerna we mumengen manat, keta si gere nge terang mudepet ezeb kerna darohaka. Male geh kase wih kul, banjir kene basa besilo ni, bur si atas-atas pe meh apus buh wih kula, denie ni mugenang. Jadi turah tos sara perau kul kin tempat besilu. Atau perau a ne le berumah, i one mangan minum, imah perbekalan si genap dirie kin papien lo ni kadang te sawah pe ku ulen ku tun beta mulo. Perau kul a ne turah tir itos imungen, si nge turah ara bepari i sara tempat, si kire-kire murah berhubungan urum Mekkah.
Jadi, nge putus makripet ni Unok ne gere ara len pilihne, keta batang kayu kul si genering ni kulem a ne le si turah ijadin kin perau kul, ke nume oya keta gere sidah pe kase isie.
Tar bilangan si jeroh tar ketike si bise, putus makripet bulet ate tumung kekire ni Unok ni, kayu kul si genering ni nin a nepe ijerhutne. Mujergut urum uyet-uyete, tar one ieyate maran-aran renyel sawah ku serap ni lut Acih so tar one renyel ku Mekkah.
Ale bekas ni perdu ni kayu a ne, tanohe ke nge mubungker lagu kul nge mukelong mukultung, renyel mujadi kulem kul, kulem uyet ni kayu kul a ne nyap-nyapan relem sari ku wan tanoh se mupantik. Loloten kayu si sare Unok a ne oyale kebere mujadi arul kucak, meh kemokotne memakin relem memakin kolak, wihe pe renye memakin deras.
Oyale keta ne asal usu ni Dana Laut Tawar-te ni urum wih kul si bergeral Sungai Pesangan, si mujaril sawah ku Lut Acih so.
****
Sumber:
Hakim, A.R. 1986. Bunga Rampai Cerita Rakyat Gayo, Seri IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
Oleh A.R. Hakim
Si kedele ne manuk si peralai jema oyale kukur. Ike kukur galak keta nguk isabung, ijalu. Keta iaran taroh. Mera we raie taroh a ne ku sepuluh ribu, due puluh ribu, mera we koro atawa kude pe bun jema kin taroh. Dum kul nate, beta mulo ke dah. Menang kalahe keta terserah ku nasib, ara kukur galak gere lepas mah taroh, keta talu. Nguk perin kukur ijalu kin peme rah ni nepekah. Gere tubah lagu jema betaroh tekala pacu kude so, kude si musangka ke mujontor de lahe seneta, si betaroh keta mumangan sedep, mangan ku bajak rum kul ni kutep.
Si menang a keta nge tetnine ike si kalah a keta pukekucip, pupeperus gumis, nome kelam gere ne mis, pe ng wan beb nge meh titis.
Sara macam mi keta gere kin kukur sabung orop nge iperalai kin lelon kin dediangan, igegeneng, ipepanang, ipeperus, ipenirin dum galak nate.
Iyo soboh iengon-engon, ikerteken pumu kukur pe mungku, tuke mulape lagu si nge korong, osop gerahan basah gerngong. Ku si beluh oya kin temengen, beluh ku empus atawa ku rebe, si gere pu udah keta ku mersah atawa ku umesegit.
Sentan soboh dabuh mencer matan lo cap renyel iuetan rungang beranir-anir bergegiring, isantiren ku tetulok itatangan pora tetemas pecengan, ileweni lagu becerak urum budak. Ikumuren wih isempuren ku bedene, ipeperus sire we bejunte atan jejari pumu kiri, ikerteki kin pumu kuen. Kene pake a iejer mentalu.
Ke nge porak kase o ayon ku wan rungang igenengen isantiren ku cabang nasam, ku labang sagi rumah tuyuh ni teroto. Anak dirie pe kadang ipenirine sana kene jema banan. Lagu si gere ara lupen sejap pe, betale kul nate.
Kukur mentalu, ate galak, kukur mungku guke isimak, mangan sempat lupen, utang ku Tuhen gere ne beriro. Kelaman ara kin regge ni jagong pakan kukur penan ni kumpu barik enti mi.
Ulak ari empus atawa ari ume, cube mi ingetei kune kin cara ni pake si bekukur a. Dumna guree kadang te ara uah ni kupi ben kutip wan karung, keta katan ulu renye ijujung, kadang batang ni pete atawa cabang ni kayu kedah male kin utem atawa kin tersik kin tiang ni penjemur nupuh, keta katan kerlang dabuh iarang parang pe itemeng ike perlu anak pe iemen mien, keta ne kukur wan rungan mien itemeng kin pumu kiri. Sengkiren uren pe lo buet lagu noya gere muketapi. Kite mi we munengone lagu si nge sawah dehdohe. Kune kin kinen muniti atang mulengkahi atang, muneki kite ike dene jeral gere bike mukelset. Muniti petal pe gere mukekunah, sengkiren kedang male musentat, adik kukur a ne mukunah, lagu si nguken anak si wan nemen a ne mutuh. Beta se ba jema ari kul nate mununung galak, lupen we kin tengkeh ni jema, arok mupolok galak muselpak.
Kati kite paham kukur ni lagu si ara roa macam, pertama kukur si sedakala kite egon iperalai jema, kita sara mi kukur gunung. Lagu si ara ilen sara mi, si begeral merbuk kire-kire bensa ni kukur. Ke kukur gunung lagi si mupenilang pora jangute gere olok iperalai jema sebeb gere kita betih sanae si paral. Gere lagu kukur pedih ne betami kena, linge iparal, guke pane mentalu, keta kin pengantin bun jema ike munama aring, munama getah, munama katir. Kona ni kukur ari guke beta kene tengkeh.
Boh pengen gelah jeroh, keta ni kekeberni jejok. Jejok ni ara si bergeral jejok balu, jejok ines, jejok berbakan, nta jejok si gati kite egon terbang-terbang atau tamas, ari batang ni anar ku batang ni beke mengenal iyok mumangani uah. Entah si si jejok si tulu ni si peralai jema mal regee pe, lagu si jejok balu, lagu si berbakan ke die gere selese tu aku. Tapi ara, jelas jejok. Ke jejok umum a ne te, lagu si gere iroi jema, suket tukang letap. A biasae nantine lo uren mulo. Mari uren a nge sidang beta kedah baru beluh muletep munep-nep tuyuh munem muah.
Jejok si peralai jema ne ikekus delahe urum mas kati pane becerak, lepas itununge iuru-urue sana si gati pengewe cerak ni jema empu numah a. Misele berpepiulen, gure asal mumengewe, lagu tiung pe kene jema lepas lagu noya.
Jejok gere ara ijalu jema lagu kukur. Iperalai bis kin lelon we. Lenge iparal. Ike si galak a kedah tekala geh kite ho renyel we muling seulah-ulah kin pesalamanne. Senang atente. Pakene pe murah we, awal tasak, pertik tasak, lede pentek, nguk perin uah ni kayu. Cume citnalahe pengalut ni jejok ni oyale, awahe mumangan, keta cret crot teie pe renye tangkuh, lagu si redik di. Buh jema kin pengalutan enti lagu jejok, cret crot sesire mangan. Tah mumangan kuwih kul.
Jadi ke beta ya pede serlo, beluh mi we kami ku empus i Paya Tumpi. Nge beta bang peloh ni manuksie ni, uru-uru. Berempus jema berempus aku pe, bekupi jema bekupi kite pe. Ke makin tekala kupi murege, munengon jema si bekupi a mubeli gule ku kede sentan ulak so nge betemengen iken pedih mowa-owa atau hondae. Murip nesunte pe, bekupi mi bang kite pe dabuh mengas, gere ninget kune kin keberni bawal merges.
Jadi ni kami ne wan empus a ara kupi, ara asam kelele, ara awal, ara nangka, ara agur nguk perin lengkap. Uet ari umah bangun si nge sawah sunguhe sentan sawah pe ku empus negon kerpe nge sejenyong kita nge apus kupi, dabuh sabet.
Itebesle pora-pora irerampis. Kane ananmu, ni kite sibetule dele tu rangkamle buet ni, ujudne pemarine kebatangan. Gere ara buet si ucus bene mupuyuken. Le tu cabang ni buet. Gere tededik. Engon ku kerpe lagu lingku mulo ne nge apus kupi, cabang ni kupi gere beserlak nge mumah ni musangan. Opos umah nakalku, lagu si gere terkekiren naku ne si de si mali kumulon.
Dang-dang pubebeta nge atas pe lo, buet gere ilen murupe, gere ilen sanah pe mengonen.
Dosa lehe nge buet te ni, a kene ananmu. Kune dosae kenaku, lagi si nge malim di. Sana si gere dosa, reta gere itetahi iluah jaluhen pelin gere bertentu. Gere ubah, amanah ni Tuhen gere iperalai ke lagu ini sakit ni ling, lagu si nge daten mubazir. Ibarat ume lagu si nge beseje irohen, empus ni beta lagu si male italun.
Lo pe rerenyel ruhul tuke nge dabuh mulape. Tekediren ananmu nge mujerang. We sesire mujerangle becerak a ne ari wan jamur isutie lingku.
Koh kini mi keta mulo renye mangan, mutalu ananmu ari wan jamur. Jadi kami ne beluh ku empus gere tubah lagu minah mangan pelin we. Tekok di kite nguk sedep di mangan i empus ni mangan pelin we. Tekok di kite nguk sedep di mangan i empus ni. Gere dalih berpong kero. Rebusen rukut, pipisen lede, terasi tikik buh agur kemero anconge, cap celet ku legen a, lagu si gere tegilahine, gemok silente, sesara kemul ku was, lagu nege mnelgap, bet-bet lukup suepte. Meminter nge borehen. Pora muser e kunulte genyuren kiding dabuh poap-oap geh tunuh. Ike itunungen renyel munjadi.
Tengah kami mangan a ne, tenenge ling ni tung-tung i umah ni Pak Serun. Sana die mien oya. Kupene pe Pak Serun a munalu kurike iguel tung-tung, meh temabur bersangkanan kurik-kurik si bejamah wan empuse a ne ulak kumah. Kupen beta jep ruhul kurik a ulak mulo sejep iosah pakene jagong isempak atawa kacang kuning. Mari mangan a ulak mien dediang bejamaah mumerah pakan wan-wan kupi a iyok, kerudik, lompong, ketol, sanah-sanah. Yo kase muling mien pukul-pukul 5, a tene ulak lup ku wan kepuh nome demu mien mangan.
Si kin pikirenku nume sana nguk betihi korik a pe le ling ni tong-tong a ne hiren aku. Nge mengerti. Dup kurik kenatingku nguk kupen iejer mera taat. Sana kati manuksie mera wa cules gereke beta ya, semiang soboh so ingerti ko pe, jema azan nge jep sagi bertuken mantong sempat ilen, pora-pora mi petetowet singkih kuen balik kiri, upuh jebel pe ikelkupen mien. Arake patut. Olok Bantat manuksie ni. Lagu si nge patah ejer.
Nge mari semiang gere nasup ne mumebes. Nangkap asam mi we kin nemah ulak. Kemana uah nasam ne ara jarang-jarang. Aku munik, ananmu kukeni mungamul. Sesara keranyang beta nge engkip-engkip so kuturunen betali, lagu munebuk wih ari wan telege.
Nume tetine kupi nge royo buh kerpe, keta asam ni pe lagu nge jep cahang mukayu malu. Sesire munangkap uah nasam, enta ke kumulon munetuh. Munetuhi cabang nasam si mukayu nalue. Bengis ananmu dabuh mungelemeng, sana kati asam a itetuhi, sana kati cabang nasam a si tetah. Enta ke gere cube pe ipikiriko kune mununuh kayu nalu wa. We murip yone murum muyet ku cabang nasam a.
Ningkam a kati buet delen sie-sie, gere ningetke kam kin cabang oya tengah a muah dele ge mutetewah nge muselewan, enta se ni dabuh itetuh. Kena nge gere muah ne betake, a ling nananmu bangun si giging. Ke gere kune keta mununuhi kayu nalu ni kenaku, aku pe lagu si nge okeng, turuhen kam pe. Gere ara jelen len nge turah itetuh cabang a pe kunehen ara nguk. Tengah a we muah se ni gere ne, te nge pelin kayu nalu.
Salah di kam. Sa salah, kenaku mien. Kam salah, kite nile salah kena kite empu ni empus a kite empu nasam a. Tengah kucak kayu nalu a cube tetir renyel iunuhen ke gere dalih urum cecabang nasam a pe renye turah murelas. Cit ni reta gere berurus. Sileple kam oya, kenaku. Kite gere salah. Ipikiri gelah jeroh. Cube ingeti mulo ari sihen kin ralik ni kayu nalu ni. Sa munyuene. Sana kati dalih atas asamte a murip. Ku kayu len so mukune atawa katan bumi a lues ni denie.
Ke lagu oya kekire perin jema pe kite pekak. Say nyuen kayu nalu, selo ara besuen murip dirie. Ke gere tetine atan asamte ni, ni jema len so pe ke ara. So atan batang nangka, so, atan batang ni temung so gereke nge oya pelin. Gere ara pe ne nyaris ulung ni temung a teridah. Cume ni jema asame betetah, gere idaten mulumut lagu gere berempu. Pedehal empue jemamakal. Ike becerak urum dele ni cara, buet gere orop sih pe.
“Yah, kune ling a ya, lagu si mugeratak di le.”
“Enta gereke. Kita jema makal. Biak si remalan ter mulo, kunul ter uken. Si mungajin kenduri wan jema dele so. Ale lale munetahi jema dele empus diri pe gere ne beriro. Inget kamke didong ni Kebinet, lale aku beketor meh jongor selap sane oyale kite. Rere jantar pengate.”
“Ahal jejok nile si munos lagu.”
“Sana kati minter musalit ku jejok, sana nise.”
“Jejok nile si jahat gere medet gere mubetih kemel, gere betehe buet melarat ku jema, lagu si kenak diri pelin.”
“Sana pulang kati ku jejok mempas.”
“Ari we geh ni penyakit.”
“Arake patut, lagu si gere pan akal.”
“Kune gere, jejok nile si jahat. Wele munemah inih ni kayu nalu a ku jep-jep batang nasam a. Pikiri cuhe, gereke kase betul lingku ni. Jejok a mangan uah ni kayu nalu, bubunmi mulo i atan batang ni temung so. Nge mari mangan a ke nge korong nge engkip pogenge ku jep-jep batang nasam a. pikiri cuhe, gereke kase betul lingku ni. Jejok a mangan uah ni kayu nalu, bubunmi mulo i atan batanga ni temung so. Nge mari mangan a ke nge korong nge engkip pogenge, we temerbang. Com ku atan batang nasamte ni. Uang ni kayu nalu si pangane oya ne iecengne sone, lekat i cabang nasam a ne. Meh kemokot ne sawah masae renye murip. A macam buet buet ni kayu nal. Ralike ahal ari jejok micing, pikiriko kune male mungoa jejok kati enti micing katan batang nasamte. Selo bang lepas. Suket itos peger sawah ku langit.
“A kati kenaku ne ke tengah kucak kayu nalu a murah mununuhe gere dalih cabang nasam a pe kona tetuh.”
“Enta ini nge lepas pe mulo murip nge kul. Kunehen ne ara nguk. Suket jejok a itatar mulo kati enti micing ku si kenak gere betihe kenyanyan jema.”
“Si rerume si gere pangan akal sana si ucep. Manuk, selo bang ara kekiree si mujadine. Manuk gerale pe selo betihe wajib mutempat warus barang kapat. Ike manuksie ne lagu manuk a nguk perin lagu jejok a lague perangwew, mampat perlu itatar. Ke mepat bang tempat ni pericingen, gere nguk ku si kenak gere mupereturen. Si lagu-lagu nyale si turah mepat parie. Gere bang awa manuksie ni si rejen lagu jejok a.”
……………………………”Kul pengepak ne tei ni jejok ni ku kupen.”
Uraian ringkas
Jejok adalah burung yang salat satu jenisnya disenangi orang karena dapat diajar berbicara sepatah dua patah kata dan bunyinya amat merdu seperti halnya burung beo. Makanannya buah-buahan dan serangga. Jejok ini pulalah pembawa bibit/benih benalu yang dapat merusak tanaman keras lainnya, seperti jeruk dan sebagainya, yang dibawanya melalui kotoran dari pohon-pohon lain.
Jejok ini dipelihara orang untuk kesenangan belaka, lain halnya dengan burung balam yang dipelihara dan disenangi masyarakat pada zaman itu untuk disabung sambil bertaruh. Burung balam itu oleh sebagian kecil orang laki-laki Gayo sangat disayangi melebihi dari benda-benda yang lain, dirawat dan dibawa kemana pun mereka pergi.
Dewasa ini kebiasaan memelihara dan menyabung balam itu sudah tidak ada lagi, sedangkan pada waktu silam memelihara dan merawatnya sampai lupa makan dan pekerjaan lain.
Sumber:
Hakim, A.R. 1986. Bunga Rampai Cerita Rakyat Gayo, Seri IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
Kekeberen merupakan bahasa Gayô yang berarti berita-berita atau cerita turun menurun, sama halnya dengan hikayat Pase atau Hikayat Aceh. Perbedaannya hanyalah orang Gayô lebih suka menggunakan metode ini kepada anak cucunya untuk mengingatkan sejarah dari masa lalu mereka, berbentuk lisan. Kekeberen ini berasal wawancara dengan Tengku Ilye Lebee, yang juga bila didengarkan ucapan dari Beliau mengambil bahan dari A. Djamil seorang Sejarawan Gayô dan Acih.
Dalam cerita ini ada cerita yang sedikit mistis akan tetapi ini lebih merupakan kepada sebuah perumpamaan. Seperti ketika mereka berubah dikutuk menjadi batu, maka ini bisa jadi merupakan perumpaan adanya sebuah pertikaian yang menyebabkan terjadi saling bunuh. Oleh karena itu, sebenarnya terdapat kebenaran disitu.
Dalam kekeberen ini diceritakan 2 Kerajaan yang merupakan asal dari Gayô yaitu Kerajaan Lingë dan Kerajaan Malik Ishaq. Kerajaan Lingë berdiri pada abad ke 10, sedangkan Kerajaan Malik Ishaq pada saat adanya Kerajaan Pérlak (abad ke 8 s.d. 12 M) dan Sri Wijaya (abad ke 6 s.d. 13, sedangkan masa kejatuhannya pada abad 12 M atau 13 M)
Asal Mula Kata Gayô
Ketika akhirnya diketemukan Merah Mege pada saat itu di Luyang datu terucap kata-kata Sansekerta yaitu Dirgahayu, kemudian dilafazkan menjadi DirGayô = Sehat Walafiat, ini semua terucap karena Mérah Mégé berhasil selamat walau sudah lama di Loyang Datu tadi.
Atau ada lagi yang mengisahkan bahwa kata-kata Gayô berasal dari sebutan sebuah daerah yang penuh dengan gerep (Kepiting). Sewaktu masyarakat membawa-bawa Depik mereka selalu mengatakan akan ke Gayô, berjangkat ke Isak, owak, Blang Kéjérn. Bertemu dengan orang Rikit, saya dari Pegayôn. Begitu juga ketika Kuté Bélang masih belum diketemukan, didapat akhirnya dibelakang kampung toran, ada satu paya (payau) yang hidup gerep (kepiting), dalam bahasa Gayô sedangkan bahasa Karônya Gayô. Waktu itu ada sebuah budaya bahwa sebutan Gayô penting buat Karô, begitu pula sebaliknya. Seperti jug sebutan untuk orang Karô bahwa di kuté panyang (Kuté panjang) ada pertempuran antara orang Gayô dan Karô karena tidak mau masuk kedalam Islam. Karena lari maka disebut dengan Karô, yang berarti Kejar atau buru dalam Basa Gayô.
Ada sejarah Aceh, bahwa orang Gayô berasal dari Kayô atau mutérih, takut masuk ke agama Islam, maka lari ke gunung. Ini tidak benar, karena yang pertama kali Islam adalah orang Gayô. Sedangkan yang tidak masuk Islam ada kemungkinan ada sebuauh nama yang bernama marga Ginting Pasé terasing dan tidak ada hubungan dengan yang lain. Ada kemungkinan ini adalah ini berasal dari keturunan Lingë.
Kerajaan Lingë
Kerajaan Lingë berasal dari Kerajaan Rum atau Turki, asal kata Lingë berasal dari bahasa Gayô yang berarti Léng Ngé yang artinya suara yang terdengar. Raja Lingë I ini beragama Islam bernama Réjé Genali atau Tengku Kawe Tepat (Pancing yang lurus dalam bahasa Acih) atau Tengku Kik Bétul (pancing yang lurus dalam Bahasa Gayô).
Abu bakar siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib” kene Tengku Ilyas Lébé. (fajriboy.multiply.com)
Inilé Elem si pemulo muképak-képak i Buntul Lingë (bendera Kerajaan Linge) “Warnaé gërë néh terasi aku, karna ngé tué, apakah wé ilang atau pé kônéng, itepi atas bertulén Lailahailallah, itepi toyoh bertolésën geral sahabat si opat: Abu bakar siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib” kene Tengku Ilyas Lébé. (fajriboy.multiply.com)
Agama Islam yang dianut bisa dililhat dari bendera Kerajaan Lingë tersebut, dimana ada Syahadat di atas benderanya dan di bawahnya bernama 4 sahabat nabi, sedangkan warnanya belum diketahui karena sudah kusam, antara merah dan putih (bendera ini masih bisa dilihat dan disimpan di daerah Karô, sebagai pusaka dari anak salah satu Raja Lingë yang pergi ke Karô).
Raja Lingë mempunyai 4 anak, 3 laki-laki dan satu perempuan. seorang perempuan bernama Datu Beru, dan ketiga anak laki-lakinya bernama Djohan Syah, Ali Syah dan Malam Syah.
Ketika besar khusus anak laki-lakinya akan disunat seperti halnya ajaran Islam, anak yang ke-3 bernama Ali Syah tidak bisa disunat karena kemaluannya tidak dimakan pisau. Hal ini tentu saja membuat malu. Hal ini menyebabkan ia meminta ijin kepada Raja Lingë untuk pergi ke daerah Karô.
Walau pada mulanya Raja tidak mengijinkan namun akhirnya dengan berat hati sebelum kepergian mereka dibagikan pusaka untuk anak laki-lakinya yaitu Kôrô Gônôk, Bawar, Tumak Mujangut, Mérnu dan élém (Bendera Pusaka). Sedangkan Datu Béru memegang kunci khajanah Kerajaan Lingë.
Ali Syah, anak ke-3 Raja Lingë I
Ali Syah bersama rombongan berangkat menuju Karô menuju daerah yang disebut Blang Munté. Pada daerah tersebut Ali Syah bersama rombongannya memutuskan untuk berhenti dan menetapkan bahwa tempat itu sebagai tempat ia terakhir bersama rombongan.
Tinggallah Ali Syah seorang diri selama berbulan-bulan tinggal disitu, dalam sebuah kesempatan ketika kemudian mencari ikan di Uih Kul Renul, bertemu dengan gadis dan bujang sedang menyekot (mencari ika) yang kemdian diketahui berasal dari negeri Pak-Pak. kemudian menjadi teman dan bergaul, akhirnya menikah dengan beberu pak-pak tersebut sampai berketurunan. Ali Syah pun akhirnya belajar bahasa dan hidup disana.
Terdapat sebuah kisah yang menarik yaitu ketika suatu saat Bélah dari Ali Syah yang sudah tua tersebut akan pergi bersawah yang sebelumnya diadakan kenduri (dinamai kenduri Mergang merdem). Acara kenduri tersebut diadakan agak jauh dari tempat Ali Syah tinggal sehingga keturunannya atau cucunya ditugaskan untuk memberikan nasi beserta ikan kepadanya. Ternyata ketika sampai di sana didapatinya ikannya hanya tinggal tulang belulang saja karena telah dihabisi oleh anak cucunya, mendengar ini ia amat murka dan mengutuk semua (kélém-lémén) anak cucu keturunannya menjadi batu semua, semua nya masih bisa dilihat buktinya disana di Blang Munté perbatasan Karô dan Alas.
Namun, ternyata ada yang lolos dari kutukkannya seorang aman mayak (pengantin Pria), inén mayak (Pengantin Wanita) yang sedang hamil dan satu lagi adiknnya inén mayak tersebut. Melihat tersebut Aman Mayak pergi meninggalkan daerah tersebut untuk menceritakan hal ini kepada Raja Lingë. Mendengar hal tersebut segera dikirimkan rombongan kesana untuk mencari tahu atau menguburkan bila ada yang meninggal.
Setelah lantas diketemukan pohon kelapa yang menandakan ada kampông, yang disebut dengan Kampung Bakal, mereka ingin kesana karena lapar. Saat itu di pinggir sungai tersebut terlihat Giôngén (Kijang) yang sedang minum, mereka mecoba menangkap Giôngén tersebut untuk kemudian membantu mereka berdua melewati sungai tersebut. Dalam suatu ketika mereka hampir terlepas dari pegangan kepada Giôngen tersebut, sehingga Inen Mayak yang sedang mengandung tersebut mengucapkan dalam bahasa Karô ‘ngadi ko lao’, atau ‘berhentilah kau air’, sehingga sampai sekarang ada pusaran air disana. Dan karena ada kejadian inilah orang-orang Gayô disana dilarang memakan daging Giôngén.
Sesampai diseberang sungai Inén Mayak tersebut melahirkan, karena kelelahan iya dibawa arus air sungai (Wih Kul) tersebut. Sedangkan anaknya diselamatkan oleh adiknya di pinggir sungai. Pada saat anak tersebut kehausan datanglah seekor Kerbau atau Kôrô Jégéd, yang kemudian adiknya membiarkan anak kakaknya untuk menyusu terhadap kerbau tersebut.
Akhirnya mereka berdua ditangkap oleh orang kampông tersebut, saat itu mereka sedang mencari Kôrô jégéd (Kerbau berwarna putih Krim) punya Raja yang hilang. Ketika menemukan kerbaunya sedang menyusui seorang anak manusia maka orang-orang Kampung tersebut menganggap bahwa Kerbau keramat tersebut telah melahirkan.
Mereka lantas melaporkan kepada Raja Bakal, lantas oleh Sang Raja anak tersebut dianggp sebagai penerusnya, karena ia sampi saat itu tidak mempunyai seorang anakpun. Adik dari Inen Mayak tersebut di tahan sekaligus memelihara anak kakaknya yang sudah tiada.
Dalam keadaan tersebut sampai rombongan Réjé Lingë. Ketika sampai di kampungnya Aman Mayak mereka sudah tidak menemukan siapa-siapa lagi, maka mereka pun berusaha mencari istri dan adik istri dari Aman Mayak tersebut.
Mereka pun akhirnya sampai di perkampungan Bakal tersebut, lantas merekapun mendengar berita tentang keganjilan-keganjilan yang terjadi saat itu. Mereka memutuskan untuk dapat menunggu lebih lama untuk mencari informasi. Sampai akhirnya bertemu dengan adik dari istrinya dan bercerita tentang desas-desus tersebut serta kebenaran bahwa sesungguhnya anak dari anak Kôrô jégéd sebagai anak Aman Mayak atau keturunan Raja Lingë.
Mengetahui hal tersebut rombongan dari Lingë menghadap Réjé Bakal, menyampaikan tujuan ke kampông di sini, kemudian menceritakan bahwa anaknya Kôrô Jégéd itu adalah anaknya atau cucunya Réjé Lingë, bahkan mengatakan ada saksi dari adiknnya istrinya. Untuk mengambil keputusan maka diambil keputusan akan ada perkelahian antara Pang untuk bersitengkahan (bacok-bacokan). Pang Sikucil, dan Pang Réjé Bakal bertengkah, panglima Réjé Bakal selalu bergeser bila ditengkah. Sedangakan Pang Sikucil dari Lingë tidak bergeser sedikit pun. Zaman terebut setelah bertengkah maka bersesebutan antara Réjé Bakal dan Réjé Lingë. Akhirnya anaknya ditinggal di Kerajaan Bakal tersebut dengan syarat nama Lingë tersebut jangan ditinggalkan, pagi hari pelaksanaannya. Dukun Kul (Paranormal Hebat), mengeturunkan si Bayak Lingë Karô. Inilah yang menyebabkan adanya hubungan antara Réjé Lingë Di Gayô dan Réjé Lingë (Lingga) di Karô.
Djohan Syah, Anak ke 2 Réjé Lingë
Sepeninggal adiknya Djohan Syah juga ingin pergi mengaji ke Pérlak,Weh Ben, atau Bayeun (dalam bahasa Aceh) di Kuala Simpang. Ingin belajar kepada Tengku Abdullah Kan’an dari Arab, seorang Tengku yang terkenal. Cukup lama Djohan Syah menuntut ilmu hingga mencapai gelar Mualim.
Ketika jumlah muridnya cukup 300 orang muridnya Ia menanyakankepada murid-muridnya bahwa ia berencana akan mencoba mengembangkan Agama Islam ke Kuté Réjé, yang pada waktu itu masih belum Islam.
Ketika rombongan Tengku tersebut sampai di sana Kutéréjé sedang dalam peperangan antara Raja-Raja Besar yang ada dengan utusan dari Nan King atau China yang bernama Nian Niu Lingkë , Pétroneng. Namun kekuatan dari Puteri Cina tersebut tidak terlawan karena ada ilmu sihir, sehingga banyak Raja yang berhasil dikuasai dan takluk kepada mereka, sampai akhirnya sampai kesebuah Kerajaan di Langkrak Sibreh.
Ketika tiba rombongan tersebut ke daerah tersebut Tengku menawarkan bantuannya kepada ke Réjé Lamkrak dengan syarat mereka diberikan tempat khusus serta meminta syahadat dari Raja Langkrak. Dengan alasan tersebut akhirnya masuk Islam Raja Langkra.
Setelah itu akhirnya ia melihat siapa yang akan diangkat menjadi Panglima Perang, satu per satu dilihat hingga akhirnya sampai kepada Djohan Syah, yang akhirnya menjadi Panglima Perang saat itu. Lantas diberi bekal oleh Tengku bekalnya, juga kepada semua murid-muridnya untuk berperang.
Ke 300 orang ini kelak disebut sebagai marga Suke Leretuh atau suku 300, asal mulanya dari salah satu Bangsa Aceh ini.
Setelah itu Djohan Syah memimpin peperangan dengan berbekalkan ilmu Al quran sehingga akhirnya Puteri dari Cina tersebtu akhirnya berhasil dikalahkan, Ratu Petromenk kalah, sehingga ia mundur pada basis pertahannya terakhir di Lingkë.
Melihat hal tersebut Djohan Syah merubah strateginya dalam memenangkan peperangan dengan memblockade saja benteng terakhir ini, hingga Putri Neng meminta damai. Dalam perjanjian damainya Tengku Abdullah megatakan mau berdamai dengan syarat Putri Neng mengucapkan syahadat.
Putri Neng mengatakan sanggup akan tetapi dilakukan secara rahasia. Akhirnya di tengah laut mereka berdamai, ntah kenapa setelah pedamaian terjadi dan sudah memandikan Puteri Cina tersebut Tengku menangis, ia merasa belum sempurna perdamaian sebelum dilangsungkan pernikahan antara Djohan Syah dengan Putri Neng. Lalu dinikahkan Keduanya Oleh Tengku Kan’an.
Kemenangan tersebut megah sampai dengan kerajaan Melayu manapun sehingga diangkat menjadi Sultan Aceh yang pertama bergelar Djohan Syah. Sehingga Raja-raja yang bergabung disana mengangkat menjadi Raja Kutéréjé I Djohan Syah, dan menjadikan Agama Islam berkembang dengan pesat disana.
Malam Syah dan Datu Beru tetap bersama Raja Lingë I, Malim Syah akan meneruskan Pemerintahan Kerajaan Lingë sedangkan Datu Beru akan menjadi pemegang kunci rahasia Kerajaan Lingë.
Kerajaan Malik Ishaq
Islam pertama kali datang dari Ghujarat dan Arab yang singgah di Perlak, sehingga menjadi salah satu Kerjaan Islam di Pesisir Utara Sumatera.
Sewaktu terjadi perangan Kerajaan Perlak dengan Sriwijaya dari Palembang sampai 20 tahun. Sultan Malik Ishaq waktu itu ia menyuruh mengungsikan perempuan dan anak-anak, ada suatu negeri yang ada Kuté-kuté yang akhirnya bernama dengan Ishaq, daerah Ishaq sekarang.
Anak Malik Ishaq adalah Malik Ibrahim, anaknya kemudian adalah lantas Muyang Mersah. Kuburannya sampai sekarang tempatnya masih ada akan tetapi tidak bisa diketahui lagi kuburannya karena sudah diratakan dengan tanah, namun telaga muyang mérsah masih ada.
Muyang Mérsah menpunyai 7 orang anaknya yaitu Mérah Bacang, Mérah Jérnah, Mérah Bacam, Mérah Pupuk, Mérah Putih, Mérah Itém, Mérah Silu dan yang bungsu Mérah Mégé. Namun Mérah Mégé adalah anak kesayangan dari kedua orang tuanya yang kerap kali membuat iri dari adik-adiknya, sehingga mereka merencanakan akan membunuhnya.
Kesempatan itu datang pada saat merayakan Maulid Nabi di Ishaq maka pihak perempuannya menyiapkan kreres (lemang) sedangkan laki-lakinya mungarô (berburu) untuk lauk dari kreres tersebut. Akhirnya si bengsu diajak ngarô untuk kemudian dibunuh, namun kakak-kakaknya ternyat tidak sampai hati membunuh adiknya tersebut sehingga hanya dimasukkan ke Loyang datu. Mengetahui bahwa anak bungsunya hilang membuat marah orang tuanya.
Ketika Mérah Mégé ada di Loyang Datu ia ternyata mendapatkan makanan dari anjingnya yang bernama ‘Pase’. Melihat tuannya dimasukkan kedalam lubang oleh abang-abangnya anjing tesebut kemudian selalu mencarikan makanan untuk Mérah Mégé. Bahkan makanan yang diberikan kepadanya. Dibawanya ke Loyang Datu untuk kemudian diberikan kepada Mérah Mégé.
Keanehan atau keganjilan dari Pase ini tentunya akhirnya mendapat perhatian dari Muyang Mérsah, hingga akhirnya ia memutuskan untuk dapat mengikuti anjing tesebut dengan berbagai upaya, yaitu ketika memberikan makanan kepada anjing tersebut ia juga menaruh dedak sehingga kemanapun anjing tersebut akan meninggalkan jejaknya. Hingga akhirnya diketemukan Mérah Mégé tersebut. Yang kemudian dirayakan dengan besar-besaran oleh Muyang Bersah.
Kemudian Mérah Mégé menjagai pusaka, dan keturunannya tersebar diseluruh Aceh, Meulaboh, Aceh Selatan daerah Kluet, seluruh perairan diseluruh Aceh, didahului dengan nama Mérah.
Keenam Anak Muyang Mérsah
Keenam Saudara Mérah Mégé akhirnyua lari, pertama kali lari ke Ishaq karena malu. Namun begitu diketahui Raja dan kemudian akan disusul mereka lari kembali ke Tukél kemudian membuka daerah yang bernama Jagong, dikejar kembali sampai akhirnya ke Sérbé Jadi (Serbajadi Sekarang). Dikejar terus anaknya, karena rasa sayang, setelah rasa marahnya Raja tersebut hilang. Namun mereka sudah amat malu kepada ayahnya akhirnya mereka sepakat untuk berpisah dengan catatan akan menyebarkan Agama Islam pada daerah yang akan ditempatinya.
Mérah Bacang, si sulung, pergi ke batak untuk mengembangkan Islam ke daerah Barus, Tapanuli.
Yang ke-2 Mérah Jérnang ke Kala Lawé, Meulaboh.
Yang ke-3 Mérah Pupuk Mengembangkan agama Islam ke Lamno Déyé antara Meulaboh dan Kutéréjé.
Yang ke- 4 dan 5 Mérah Pôtéh Dan Mérah Itém di Bélacan, di Mérah Dua (sekarang Meureudu) masih ada kuburannya.
Yang ke-6 Mérah Silu ke Gunung Sinabung, Blang Kéjérén
Mérah Sinabung
Mérah Silu mempunyai seorang anak yang bernama Mérah Sinabung (Dalam bahasa Gayô Mérah Sinôbông). Mérah Sinambung ternyata lebih berwatak sebagai Panglima, sehingga hoby adalah mengembara. Sampai ia berada pada suatu daerah yang sedang berperang. Perang yang terjadi antaran Kerajaan Jémpa dan Samalanga. Kerajaan Jémpa waktu itu sudah beragama Islam, hingga akhirnya ia menawarkan bantuan kepada Raja Jempa tersebut dan berhasil memenangkan peperangan dengan Kerajaan Samalanga. Jasa baiknya tersebut akhirnya membuat Raja Jémpa menikahkan putrinya kepada Mérah Sinabung.,
Keduanya mempunya 2 orang anak yang bernama Malik Ahmad dan Mérah Silu. Setelah Mérah Sinabung wafat maka naiklah Malik Ahmad menjadi Raja Jempa, akan tetapi ada syak wasangka terhadapa Mérah Silu, karena ia lebih berbakat dan lebih alim serta lebih dicintai rakyatnya maka timbul kecemburuan yang terjadi.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka Mérah Silu akhirnya pergi ke daerah Arun, Blang Sukun, untuk menghabiskan waktunya ia bekerja sebagai pande emas, besi dan barang logam lainnya sedangkan malamnya ia mengajar mengaji.
Lama kelamaan orang sekitar menjadi mengenal Mérah Silu sebagai Mualim, tokoh masyarakat, akhirnya menjadi Réjé di Lhoksmawé. Sehingga kemudian ia diangkat menjadi Sultan Pase pertama atau disebut dengan Sultan Malikus Saleh. Sebutan daerahnya Pase merupakan sebutan yang diambil dari nama anjing yang telah menyelahamatkan Datunya, Mérah Mégé.
Réjé Lingë ke XII
Sultan Aceh , Sultan Ali Mugayat Syah Al Kahar, yang mengembangkan Aceh Darussalam. Aceh sewaktu Iskandar Muda sudah matang menjadi satu pada zaman Réjé Lingë yang ke 12 tersebut, memimpin peperangan untuk berperang dengan Malaka.
Ketika akan menyerang Portugis membantu Kerjaan Johor dengan Perahu Cakra Donya, maka yang memimpin peperangan tersebut adalah Raja Lingë ke XII. Dengan berbagai upayanya ia berhasil mengalahkan Portugis. Sebagai rasa terimakasih ia dikawinkan dengan anak Raja Johor dan mempunyai anak yang bernama Bénér Mériah (Bénér Mérié dalam bahasa Gayô) dan Séngëda.
Dalam perjalanan pulang ia sakit perut dan akhirnya meninggal di Pulau Lingga, ia dimakamkan disitu, dan banyak orang Melayu tiap tahun berziarah ke makamnya, dan makamnya sudah dibuat dengan bagus.
Istri ke-2 dari Raja Lingë ke XII bersama kedua anaknya meneruskan perjalanan dan menetap di Kutéréjé pada salah satu messnya untuk Janda Raja Aceh dan anak-anaknya.
Ketika mereka besar mereka menginginkan pergi ke asal Ayah mereka, namun berkenaan dengan adanya pertemuan tahunan antara Raja-raja di Aceh di Kuté Réjé (Banda Aceh sekarang), maka ibunya menyaramkan untuk bersabar karena akan ada rombongan Réjé Lingë ke XIII (anak Raja Lingë ke Xll, dari istri pertama) ke sini dan mereka bisa ikut pulang ke Lingë bersama rombongan.
Selama sebulan dalam perjalanan. Sampai ke Lingë menghadap, ketika melihat Cincin dan Rencong bertuliskan Réjé Lingë pada anak-anak Réjé Lingë 12, Bénér Mériah dan Séngëda. Réjé Lingë Xll dengki, dan menuduh kalo Ayahnya Raja Lingë XlI diracuni oleh Bénér Mérié dan Séngëda, dan Raja Lingë Xlll tidak tahu kalau mereka adalah saudaranya sekandung seayah. lantas menugaskan kepada PM-nya Cik Serule, Syekh Réjé Juddin, diperintahkan untuk membunuh Séngëda. Akhirnya mengetahui akan dibunuh Oleh Réjé Lingë XlIl Bénér Mérié Oleh Réjé Lingë XlIl berangguk-angguk menangis. Cik Sérulé tidak sampai hati membunuh Séngéda, diganti darahnya menjadi darah kucing, seolah-olah telah dibunuh, sehingga ada daerah yang bernama daerah Tanom Kucing.
Séngëda ingin bertemu dengan Ibunya, maka di perjelek wajanya sehingga tidak dikenal untuk ikut dengan rombongan Réjé Lingë ke XIII. Diistana ada satu kamar yang bernama Balé Gadéng, disitu Séngëda menggambar Gajah Putih, melihat gambar tersebut seorang Putri Aceh melihat ada Gajah Putih kemudian meminta kepada ayahnya, Sultan Acih dan Sultan Aceih segera memerintahkan pencarian Gajah Putih tersebut dengan hadiah barang siapa yang berhasil mendapatkannya akan mendapatkan pangkat.
Kemudian rombongan Réjé Lingë ke XIII kembali ke Gayo. Sesampai di Gayo Sengeda ke kuburan Abangnya Bener Meriah, untuk kemudian menceritakan apa yang menjadi persoalannya selayaknya seorang adaik yang mengadu kepada Abangnya. Akhirnya dengan seijin Allah SWT diketemukan Gajah Putih oleh Sengeda, kIemudian dicoba untuk dapat ditaklukkannya.
Ketika Réjé Lingë ke XIII mendengarkan hal tersebut lantas memerintahkan kepada Perdana Menetrinya yang berasal dari Serule agar Sengeda memberikan Gajah tersebut kepadanya. Sesampai di kediaman Réjé Lingë ke XIII Gajah Putih tersebut sepertinya tidak suka didekati oleh Reje hingga menyemprtokan air ke tubuhnya yang menyebabkan ia menjadi basah kuyup.
Akhirnya dibawalah Gajah Putih tersebut ke kutéréjé, asal sebutan Timang Gajah, ketika Gajah kabur dari rombongan. Begitu juga dengan Sigeli, ketika Gajah Putih tidak mau beranjak dari tempatnya. Baru sampai ke Kutéréjé. Kemudian diarak-arak Gajah Putih tersebut di keliling Kutereje tersebut. Keadaan Kutereje pada waktu itu sudah begitu pada dengan manusia sehingga Gajah Putih tersebut menjadi tontonan mereka dengan suka cita, Pada saat itu memang banyak penduduknya disana jutaan. Kemudian diserahkan ke Istana Darul Dunia.
Lantas Gajah Putih tersebut di bawa ke Kediaman Sultan yang bernama Darul Dunia. Ketika sampai di kediaman Sultan kembali Gajah Putih menjadi marah, kembali menyeburkan air kepada Sultan. Melihat hal ini kemudian Sultan memanggil orang yan bisa menjinakkannya, sehingga hanya Séngëda yang berhasil menjinakkannya.
Kemudian Sultan bertanya kepada rombongan Réjé Lingë ke XII siapa kiranya anak tersebut, Reje Linge sudah barang tentu tidak mengetahuinya hingga Perdana Menteri dari Réjé Linge tersebut akhirnya mengatakan kepada Sultan siapa Sengeda tersebut.
Akhirnya terbongkarlah kejahatan dari Réjé Lingë ke XII, sehingga sidang dibuka untuk mengadili kejahatan Réjé Lingë ke XIII yang telah membunuh Bener Meriah. Darin keputusan Qadhi Al malikul Adil Réjé Lingë ke XIII dijatuhi hukum qishas.
Ketika mendengar hal tersebut Datu Beru yang pada waktu itu menjadi satu-satunya penasehat dari Sultan mengatakan keberatan dengan keputusan tersebut, dengan alasan bahwa hukum qishas dapat dilakukan apabila kepada korban sudah dimintakan atau ditawarkan dengan hukum diyat (hukum ganti rugi) terlebih dahulu.
Yang menarik adalah bahwa sebelumnya Datu Beru telah menemui Ibu dari Sengeda untuk mengutarakan maksud hatinya bagai perdamaian, yaitu mengampuni Réjé Linge ke 13 untuk kemudian Sengeda menjadi penggantinya.
Sudah barang tentu dengan berbagai pertimbangan akhirnya Sengeda menerima diyat tersebut dan pulang ke Tanoh Gayo untuk menjadi Reje Linge ke 13. (kos) Edit by Ariga
UNTUK MENDENGARKAN REKAMAN ASLI KEKEBEREN YANG DISAMPAIKAN OLEH ALM. TENGKU HADJI ILYAS LEUBE (Pada 26 Oktober 1976) open/ klik link berikut:
http://www.imeem.com/uwein/music/Hxxz6O45/tgk-ilyas-leube-sejarah-gayomp3/
Lihat juga:
http://fajriboy.multiply.com
http://uwein.multiply.com/journal/item/9
http://cossalabuaceh.blogspot.com/2008/12/kekeberen-gayo-ver-bahasa-indonesia.html